Panah Syaitan Oleh : Shalih bin Muhammad Al-Wunaiyyan


Mukaddimah

Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Kami se-nantiasa memuji-Nya, memohon pertolongan serta meminta ampunan kepada-Nya. Kami memohon perlindungan kepada-Nya dari kejahatan yang dibisikkan oleh jiwa-jiwa kami, serta dari keburukan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah berikan hidayah, niscaya tiada satu orang pun yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, niscaya tiada seorang pun yang dapat memberinya hidayah.

Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang ber-hak diibadahi dengan benar selain Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah atas junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, atas segenap keluarga serta seluruh sahabat beliau.

Amma ba’du,

Wahai pembaca yang mulia, sebelumnya kami ucapkan: Salamun ‘Alaikum wa Rahmatullahi wa Bara-kaatuhu,

Sudah kita maklumi bersama bahwa banyak sekali tipu daya setan untuk menyesatkan bani Adam. Oleh sebab itu, saya katakan dengan serta merta meminta pertolongan kepada Allah, bahwa panah-panah setan tersebut sangat banyak. Panah yang dapat melumpuh-kan mangsanya sehingga tidak kuasa berbuat kebaikan dan mampu menggiringnya untuk selalu mengikuti hawa nafsu serta berkhayal yang muluk-muluk. Jika se-buah panah meleset dari sasarannya, pasti akan diikuti dengan panah kedua, ketiga dst. Syair di bawah ini sangat tepat untuk menggambarkan hal itu:

“Sekiranya hanya sebuah panah niscaya akan dapat kuelakkan.
Namun begitu satu meleset maka dua, tiga pun terbilang.”

Saudaraku yang mulia, membebaskan diri dari segala cela dan menghindar dari panah tipu daya setan adalah fase yang sangat menentukan dalam membentuk pribadi yang luhur dan terbina. Terutama bagi yang mencanangkan dirinya berada di jalur dakwah menuju Dienullah. Fase tersebut ibarat gerbang yang harus dilewati menuju pembentukan diri. Yakni membebaskan diri dari segala cela merupakan gerbang menuju pribadi mulia, yang akan membentuk akhlak dan tutur kata yang luhur.

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah menulis surat kepada para gubernur di seluruh wilayah kekuasaannya sebagai berikut:

“Jangan sampai ada perkara yang lebih penting un-tuk kamu perhatikan selain perkara dirimu! Sebab sekecil apapun dosa itu, tetap tidak pantas untuk disepelekan.”

Beliau memandang bahwa seluruh dosa, yang besar maupun yang kecil, tetap menjadi beban berat bagi diri. Pokoknya selama bumi masih berputar, Umar bin Abdul Aziz dan kaum salaf lainnya senatiasa menjaga diri dari segala dosa-dosa, yang besar maupun yang kecil. Se-orang penyair menitipkan pesan lewat sebuah syair:

Jauhkanlah dirimu dari segala dosa, yang besar mau-pun yang kecil, itulah hakikat takwa.
Jalanilah kehidupan bagaikan orang yang me-nempuh jalan penuh onak dan duri, senantiasa berhati-hati dari bahaya yang dilihat.
Janganlah engkau remehkan dosa sekalipun kecil, bukankah gunung yang menjulang tinggi berasal dari kerikil-kerikil kecil yang terhampar?

Setiap kali kita mengingat keadaan kaum salaf rahimahumullah, lalu kita bandingkan dengan keadaan diri kita, semakin terkuaklah borok-borok diri. Kita teringat ucapan Abdul Aziz bin Abi Rawwad rahimahullah, ia berkata: “Setiap kali kita mengingat keadaan kaum salaf, maka akan kelihatan kekurangan kita.” Bagaimana pula jika dibandingkan dengan keadaan kita yang hidup di zaman sekarang ini? Hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata kita memohon pertolongan.

Dalam buku yang sederhana ini kami akan menge-tengahkan kepada para pembaca beberapa panah-panah yang dilepaskan setan dan bala tentaranya yang diperankan oleh sebagian manusia, hingga mereka menjadi penyakit yang sering dikeluhkan masyarakat./

PANAH PERTAMA:
NILAI KETAATAN YANG MEMUDAR DAN MELEMAH

Seringkali kita melihat seseorang sebut saja si Fulan yang meningkat nilai ketaatannya kepada ajaran agama, namun begitu tidak kelihatan (menghilang) beberapa waktu saja, tiba-tiba suatu hari kita dikejutkan dengan keadaan ketaatannya sudah jauh menurun. Sebagai contoh, lihatlah keadaan kaum muslimin di awal bulan Ramadhan (yang penuh dengan ibadah dan ketaat-an), kemudian bandingkan dengan keadaan mereka be-berapa hari atau beberapa bulan setelah Ramadhan berlalu, kita akan dapat melihat perbedaan yang amat mencolok.

Memudar dan melemahnya nilai ketaatan adalah dengan meninggalkan ketaatan itu sendiri atau tidak mempertahankan keutuhan nilai-nilai agama di dalam diri berupa amal-amal shalih, akhirnya jatuh kepada perkara haram. Ada beberapa fenomena yang dapat kita saksikan di tengah-tengah kaum muslimin berkaitan de-ngan masalah ini, sebagai berikut:

1- Tidak Hati-hati Dalam Berbicara dan Berjanji

Banyak sekali orang yang mengeluhkan masalah ini. Masih sering kita jumpai seseorang yang membuat janji kepada saudaranya sesama muslim, namun ia tidak menaruh perhatian terhadap janjinya itu, bahkan sering kali ia langgar atau terlambat menepatinya. Lebih parah lagi kadang kala ia malah meniatkan melanggar perjan-jian itu tanpa mempedulikan akibatnya dan tanpa mem-perhitungkan pahala yang bakal diperoleh dari menepati janji. Lucunya terkadang ia malah menggerutu bila janji-janji itu ditepati sambil mengolok: “Apakah kita harus berlagak kebarat-baratan?” Apakah ia lupa atau pura-pura tidak tahu bahwa menepati janji adalah salah satu keistimewaan kaum muslimin. Kalau tidak percaya, silakan buka lembaran-lembaran sejarah dan biografi tokoh-tokoh Islam dalam hal menepati janji. Perlu di-ketahui, ketika kaum muslimin meremehkan masalah ini, musuh-musuh Islam justru mencaploknya. Sehingga sangat disayangkan bila mereka mengambil intinya se-mentara kaum muslimin kebagian kulitnya saja.

2- Terburu-buru Dalam Memvonis Tanpa Cek dan Ricek (Tabayyun) Terlebih Dahulu

Berapa banyak kita jumpai orang-orang yang menim-bang dengan dua timbangan (tidak fair dalam memvonis orang). Mereka membuat-buat tuduhan lalu menjatuhkan vonis secara keji. Jika ditanya tentang alasannya, tanpa malu-malu mereka berkata: “Begitulah dugaan saya!” “Kata orang demikian!” “Aku dengar orang-orang berkata begitu!”

Bila ditanya tentang seseorang, ia langsung mem-vonis “Ia seorang ahli bid’ah!” atau yang lebih parah dari itu. Tanpa ragu ia memvonis fasik atau memvonis kafir orang lain. Jika engkau tanya: “Siapakah orang yang memberi tahu kamu hal ini, apa bukti kamu?” Ia akan terdiam seribu bahasa. Apakah mereka lupa atau tidak tahu bahwa tabayyun termasuk manhaj (prinsip) Ahlus Sunnah wal Jama’ah? Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini:

 “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada-mu orang fasik membawa suatu berita, maka perik-salah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengeta-hui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat: 6)

Sungguh sangat mengherankan bila musuh-musuh Islam dengan beragam tingkatannya dapat terhindar dari kebenciannya sementara saudara-saudaranya seiman tidak dapat terhindar dari itu?!

Sikap mereka itu mengingatkan saya kepada sindiran salah seorang tokoh salaf ketika mendapati seseorang mencela saudaranya seiman. Ia katakan kepada orang yang mencela itu: “Apakah engkau pernah memerangi pasukan Romawi?” “Belum!” jawabnya. “Apakah engkau pernah berperang melawan tentara Parsi?” tanya beliau lagi. “Belum!” jawabnya. Beliau lantas berkata: “Subha-nallah, musuh-musuh Allah dapat terhindar dari ganggu-anmu sementara saudaramu seiman tidak!?” Lalu beliau membacakan ayat:

 “Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya.” (Al-Maidah: 74)

Tidakkah mereka mengetahui bahwa setiap muslim akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh ucapan-nya?

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18)

3. Berlaku Aniaya Dalam Pertengkaran dan Tidak Memperhatikan Etika Dalam Berbeda Pendapat

Sebagian orang ada yang begitu tertambat hatinya dengan sebuah pendapat. Kadangkala ia menetapkan wala’ dan bara’ atas dasar pendapat tersebut. Konsepnya me-ngatakan: “Jika kamu tidak bersamaku, maka engkau adalah musuhku!” Oleh sebab itu ia tidak mau berge-ming dari pendapat itu meskipun sejengkal, atau paling tidak mengatakan bahwa pendapatnya itu mungkin salah! Kadangkala ia mencampuri masalah niat dan menebak-nebak isi hati orang lain. Terkadang ia juga mendikte dengan apa yang sebenarnya tidak diyakini oleh seterunya itu, atau dengan cara-cara keji lainnya.

4. Mendengarkan Isu dan Kabar Dusta

Sekarang ini banyak kita temui orang yang suka mendengar kiri kanan, suka mendengar isu-isu dari setiap orang. Kemudian ia menyebarkan seluruh yang didengarkannya tanpa rasa takut dan bersalah. Kadang-kala sebuah berita dusta yang bersifat adu domba disampaikan kepada seseorang, lalu ia sebarkan berita itu seolah-olah sebuah kebenaran yang nyata. Realita yang sering kita temui pada hari ini cukup sebagai buk-tinya.

5. Pilah-pilih Amal Ketaatan

Yaitu memilih amalan-amalan ketaatan yang sesuai dengan dorongan hawa nafsunya saja. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Orang yang bijaksana adalah yang mengoreksi dirinya dan segera beramal sebagai bekal untuk hari Akhirat. Dan orang yang lemah adalah yang selalu memperturutkan hawa nafsu, di samping itu ia mengharapkan berbagai angan-angan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Oleh sebab itu pula, sebagian orang hanya meng-ikuti kebenaran yang sejalan dengan hawa nafsunya. Kalau tidak sejalan, maka ia akan menoleh ke kiri dan ke kanan mencari tempat bersandar. Sebagian ulama salaf ada yang berkata: “Hawa nafsu dapat menjadi ilah yang disembah-sembah. Kemudian ia membaca ayat:

 “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menja-dikan hawa nafsunya sebagai ilahnya.” (Al-Jatsiyah: 23)

6. Menelantarkan Urusan Keluarga

Tidak memperhatikan pertumbuhan keluarga dan anak-anak sampai kepada kondisi yang diharapkan. Seringkali kita temui orang-orang yang sibuk dengan karirnya, sementara keluarga dan anak-anaknya tengge-lam dalam perbuatan dosa. Namun meskipun demikian, hatinya tidak tergerak untuk merubahnya. Dengan dingin ia berkata: “Ah sudahlah! Yang penting tidak mengganggu karirku.” Kadangkala ia memergoki dengan mata kepalanya sendiri kemungkaran itu, tetapi ia diam seribu bahasa. Begitulah akibatnya jika sudah terlalu banyak berbuat dosa, kesadaran pun sulit tergugah.

7. Tidak Teguh Dalam Menghadapi Problematika Kehidupan, Cobaan dan Musibah

Gemerlap kehidupan dunia kerapkali menyesatkan banyak manusia. Sedikit demi sedikit ia terseret ke dalam perbuatan haram. Tidak syak lagi, gemerlap dunia itu sangat kuat pengaruhnya dalam menurunkan nilai ketaatan seseorang, atau bahkan dapat menghilangkan nilai ketaatan itu dalam dirinya.

Tidakkah engkau lihat, seseorang yang keluar dari rumahnya demi mencari sesuap nasi, berbagai usaha pun dicobanya. Namun akhirnya ia terjerumus dalam praktek riba, hingga jadilah ia orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya.

Contoh lainnya, seorang yang bergelimang berbagai kasus penipuan dalam usahanya. Dan masih banyak lagi perkara lain yang merupakan bentuk-bentuk melemahnya nilai ketaatan.

8. Mengabaikan Hak-hak Persaudaraan

Sudah barang tentu, disana ada beberapa hak yang wajib ditunaikan oleh seorang muslim kepada saudara-nya seiman. Hal itu sudah disebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits-hadits beliau. Terkadang seseorang mengabaikan hak-hak tersebut, seakan-akan hak-hak persaudaran itu semata-mata ada jika menguntungkannya saja. Sering kita temui sebagian orang yang melihat saudaranya me-lakukan perbuatan maksiat dan dosa, namun ia bersikap acuh tak acuh saja. Atau ada seorang saudaranya seiman yang meminta nasihat dan pengarahan darinya, atau meminta bantuannya untuk menghilangkan kesulitan, atau kepentingan-kepentingan lainnya, namun ia tidak merespon hal itu sedikitpun, apalagi membantu melepas-kan saudaranya itu dari kesulitan! Tentu saja sikap semacam ini dapat mencederai nilai ketaatan.

Realita di atas sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, hal itu dapat kita jadikan barometer dalam mengukur nilai ketaatan yang ada di dalam diri. Semakin banyak hak persaudaraan yang kita abaikan, semakin lemah pula nilai ketaatan kita.

Faktor-faktor Penyebab Melemah dan Memudarnya Nilai Ketaatan

1. Godaan-godaan Setan Terhadap Umat Manusia

Hendaknya masing-masing orang menyadari bahwa selama hayat dikandung badan ia senantiasa berada dalam kancah peperangan melawan setan. Setiap jalan-jalan kebaikan yang ditempuhnya, ia pasti berhadapan dengan setan yang siap menghadang. Simaklah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:


“Sesungguhnya setan senantiasa siap menghadang bani Adam dalam setiap langkah yang ditempuh-nya. Bila ia menempuh jalan Islam, maka setan akan menggoda seraya berkata: ‘Apakah engkau sudi meninggalkan ajaran nenek moyangmu dengan menempuh jalan Islam?’ Namun seorang hamba Allah sejati tidak akan menghiraukan godaan itu dan tetap menempuh jalan Islam. Bila ia menempuh jalan hijrah, maka setan akan datang menggoda seraya berkata: ‘Apakah engkau sudi meninggalkan kampung halaman tercinta dengan nekad berhijrah?’ Namun ia pun tidak menghiraukan godaan itu dan tetap berhijrah. Bila ia menempuh jalur jihad, maka setan akan datang menggoda seraya berkata: ‘Jika engkau masih membandel tetap ikut berjihad, niscaya engkau akan terbunuh, istrimu akan dinikahi orang dan hartamu akan dibagi-bagikan! Namun ia menepis godaan itu dan tetap pergi berjihad.”(HR. An-Nasaai dan Ahmad dalam musnadnya dari Sabrah bin Abi Fakih radhiyallahu ‘anhu secara marfu’)

Ketahuilah bahwa kancah peperangan ini sangat berat dan melelahkan, ditebarkan oleh setan dan bala tentaranya di mana-mana. Maka hendaklah kita benar-benar siap menghadapinya. Setan, hawa nafsu, angkara murka dan godaan dunia siap menjerat setiap saat.

Seorang penyair menuturkan:

Sungguh, diriku dihujam dengan empat anak panah,
yang tiada henti-henti melesat dari busurnya meng-hujam diriku.
Yaitu iblis, dunia, ambisi diri dan hawa nafsu.
Wahai Rabbku, hanya Engkau jualah yang kuasa menyelamatkan diriku.

Oleh karena itu, sudah seyogyanya kita selalu waspada terhadap segala tipu daya setan. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

 “Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.” (Fushshilat: 36)

Sadarilah bahwa pada detik ini kamu tengah berperang melawan setan, janganlah sampai engkau dipecundanginya. Hati-hatilah terhadap tipu daya setan, janganlah sampai mengicuh dirimu. Sesungguhnya tipu daya setan itu sangat lemah wahai saudaraku! Dengarlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini:

 “Oleh sebab itu, perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (An-Nisa’: 76)

2. Kurang Memahami dan Mengetahui Urgensi Menjaga Nilai Ketaatan

Sering kita temui sebagian orang yang melakukan berbagai bentuk perbuatan dosa dan maksiat. Namun lucunya ia masih mengaku-aku sebagai seorang multa-zim (orang yang menjaga nilai ketaatan). Ia sebenarnya tidak memahami dan tidak mengerti hakikat iltizam (menjaga nilai ketaatan). Sebab hakikat iltizam adalah melaksanakan amalan-amalan ketaatan dan menjauhi perkara yang diharamkan. Oleh sebab itu pula sering kita mendengar selentingan pertanyaan dalam momen-momen tertentu seperti ceramah, pengajian dll yang berbunyi: “Saya adalah seorang pemuda ‘baik-baik’, selalu mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji, namun aku masih suka mendengarkan musik, atau aku masih suka melabuhkan kain sampai di bawah mata kaki (isbal), atau aku masih suka melihat perkara yang diharamkan untuk dilihat, atau perbuatan dosa lainnya. Bagaimana menurut Anda wahai saudaraku? Seolah-olah sikonnya berkata: “Jika air sudah mencapai dua qullah, niscaya tidak akan menjadi najis karena kotoran, yaitu selama aku dalam keadaan demikian, aku tetap tergolong orang ‘baik-baik’, meskipun dosa dan maksiat itu selalu kulakukan.

Sekali-kali tidak! Engkau tetap tertuntut untuk meninggalkan perbuatan dosa itu, engkau harus menjauhkan diri dari dosa-dosa itu sejauh-jauhnya. Dan hendaknya engkau memasang tekad yang kuat untuk itu, mintalah pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jangan mudah menyerah!

Seorang pemudi mengadukan halnya: “Aku adalah seorang gadis ‘baikbaik’ , namun aku masih sering ber-khalwat dengan sopir pribadiku di dalam mobil atau dalam rumah.” Bagaimanakah pendapat Anda tentang masalah ini?

Saya tandaskan bahwa perbuatan seperti itu jelas melanggar rambu syariat. Sedangkan iltizam yang hakiki mengharuskannya untuk meninggalkan pelanggaran-pelanggaran syariat semacam itu.

3. Lingkungan yang Jauh dari Nilai-nilai Ketaatan

Kadangkala seseorang yang iltizam tumbuh di tengah-tengah lingkungan yang jauh dari nilai-nilai ketaatan. Kadangkala ia hanya bisa diam melihat dosa dan maksiat yang ada di sekitarnya, lebih parah lagi terkadang ia terpengaruh dengan dosa dan maksiat itu. Sebagaimana yang disebutkan dalam pepatah ‘ alah bisa karena biasa‘, jika sudah terlalu sering menyaksikan perbuatan dosa, akhirnya terpengaruh juga.

Maksudnya bukan secara seporadis merubah pelanggaran-pelanggaran syariat yang dilihatnya di dalam rumah. Sebab cara seperti itu akan membuahkan hasil yang mengecewakan. Beberapa pemuda semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mencurahkan taufik kepadanya dan kepada kita semua- terlalu terburu-buru dalam bertindak, begitu ia mendapat hidayah, langsung saja ia datangi keluarganya seraya menyeru: “Kalian semua tahu atau tidak bahwa perkara ini dan ini haram tidak boleh dilakukan!”

Dengan enteng keluarganya menjawab sebagaimana yang dilantunkan seorang penyair:

Kalian katakan ini dan itu tidak boleh kami laku-kan.
Siapakah kalian, hingga kalian bisa berkata ini dan itu!

“Bukankah kamu seorang anak kecil baru lahir kemarin, masih bau kencur? kok tiba-tiba saja menjadi mufti di dalam rumah, tunggu dulu janganlah tergesa-gesa!” demikian sindir keluarganya.

Menurut hemat saya masalahnya tidak akan selesai dengan mengunci mulut tidak bereaksi, dan tidak pula dengan cara seporadis seperti itu. Sebagian orang berang-gapan bahwa solusinya adalah dengan meninggalkan rumah (minggat), tentu saja ini merupakan cara yang keliru, sebab minggat dari rumah tidak akan menyelesai-kan masalah (bahkan akan menambah masalah). Beda halnya jika dengan meninggalkan rumah, kondisi akan berubah menjadi lebih baik. Namun biasanya cara seperti itu justru akan menambah berat jalan cerita.

Apabila engkau melihat sebuah kemungkaran (khu-susnya di dalam rumah sendiri), maka siapkanlah senjata pamungkas yang membuat mereka tidak bisa berkutik, tidak bisa berdalih ini dan itu. Hendaklah engkau menyi-apkan petuah alim ulama yang terpandang mengenai bahaya kemungkaran itu. Atau dapat juga engkau siapkan fatwa ulama, kitab agama, kaset ceramah, buletin-buletin dan lain sebagainya. Kemudian engkau persilakan mereka sendiri yang mendengar dan mem-bacanya. Sebab terkadang mereka belum menemukan cara yang tepat untuk meninggalkan perbuatan mungkar itu. Banyak pemuda yang terhimpit problematika seperti ini, dengan menerapkan cara di atas banyak membuah-kan hasil-hasil positif yang menggembirakan. Walham-dulillah

4. Musibah dan Cobaan

Berapa banyak orang yang berubah jalur hidupnya akibat musibah dan cobaan yang menimpa. Terkadang musibah dan cobaan itu datang dari orang lain atau karena akibat tingkahnya sendiri. Muslim yang sejati adalah yang bertambah ketaatannya setiap musibah dan cobaan datang menerpa. Adakah musibah dan cobaan yang lebih besar dari yang diterima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat-sahabat beliau? Coba buka kembali sejarah peperangan Ahzab! Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini yang menggambarkan betapa berat cobaan yang dialami mereka, sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata;

 “(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sam-pai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncang-kan (hatinya) dengan goncangan yang sangat.” (Al-Ahzab: 10-11)

Coba bayangkan bagaimana keadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam keti-ka itu, hamba yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, apakah dengan cobaan yang demikian nilai ketaatan mereka merosot? Apakah pupus iman mereka kepada Allah? Ma’adzallah sekali-kali tidak! namun kita ucapkan seba-gaimana yang diucapkan hamba-hamba yang beriman.

 “Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata:”Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22)

5. Terlalu Banyak Beban Kehidupan yang Dipikul dan Terlalu Berat Serta Panjang
Perjalanan yang Dilalui

Terus terang saya katakan bahwa sebagian orang ada yang membebankan dirinya di luar kapasitas normal, hingga ia sendiri tidak sanggup memikulnya. Kadang ia lupa bahwa perjalanannya masih panjang. Kita dapati ia mencampuri dan menggeluti hampir semua bidang. Sibuk mengurus ini dan itu. Sampai-sampai ia mengabai-kan perkara-perkara wajib.

Tidakkah pernah engkau jumpai seorang yang punya ambisi besar, setiap celah yang bisa dimanfaatkan, pasti dimasukinya! Namun begitu selesai dari segala aktifitasnya itu, staminanya menurun, akhirnya terkapar tiada berdaya, tenggelam dalam tidur yang pulas. Terka-dang ia melalaikan kewajiban-kewajibannya. Padahal yang dituntut adalah menyucikan jiwa dengan berbuat taat. Lebih parah lagi, terkadang ia melalaikan shalat fajar, tentu saja ia juga melalaikan doa-doa sebelum tidur.

Hendaklah kita beramal sesuai dengan kemampuan yang ada. Ikutilah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini:


“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang ber-kesinambungan meskipun sedikit.”(HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad)

6. Pengaruh Orang Tua

Pengaruh orang tua sangat besar terhadap pertum-buhan anak-anaknya. Mereka dapat menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya nilai ketaatan. Apalagi jika si ayah jauh dari tuntunan agama. Kadangkala seorang anak tumbuh di atas bimbingan agama yang baik, ia menampik perkara-perkara yang dilarang agama. Namun sayangnya si ayah berusaha menghalanginya. Si ayah menyediakan segala fasilitas untuk memperdaya anaknya itu, tentu saja lambat laun si anak akan terpengaruh hingga melemahlah nilai ketaatannya.

7. Tidak Ada Kontrol dan Motivasi dari Orang Lain

Sering kali kita keluhkan tidak adanya waskat (pengawasan melekat) antara sesama pemuda ketika gejala-gejala penyakit ini muncul (maksudnya penyakit melemahnya gairah beramal). Berapa banyak orang yang bertekad untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun sangat sedikit yang mau peduli dengan kesungguhannya itu. Kontrol dan suntikan motivasi ini sangat urgen, sebab seorang pemuda biasanya memiliki masa lalu yang selalu diingatnya. Jika terbayang kembali masa lalunya itu, setan akan segera menggodanya untuk kembali seperti yang dulu. Kemudian datanglah bala tentara setan yang diperankan manusia-manusia iblis, menakut-nakutinya dengan bayangan masa lalunya itu. Bahkan terkadang mengancamnya bila ia tidak seperti yang dulu, mereka akan membongkar boroknya di hadapan orang banyak! Pada saat-saat seperti itu, ia tidak menemukan orang shalih dan istiqamah yang memberikan motivasi kepadanya. Sehingga ia terpengaruh bisikan bala tentara iblis tadi, akhirnya ia kembali kepada masa lalunya yang kelam.

Kadang kala mereka menyeretnya ke dalam kemu-nafikan, dengan membisikkan ke telinganya: “Tetaplah engkau seperti ini secara lahir. Dan secara batin engkau dengan perbuatanmu seperti itu sehingga engkau pasti bersama orang-orang jahat juga nantinya!”

Seringkali kita temui cara yang kurang tepat, yaitu nasihat pertama yang kita sampaikan kepada mereka adalah: “Hati-hati dengan si ‘Fulan’, jangan sekali-kali kamu mendekatinya! Menurut pandangan saya, cara seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan secara tidak disadari kita telah membantu setan untuk menyesatkan si ‘Fulan’ itu. Jarang sekali kita temui nasihat yang berbunyi: “Wahai saudaraku, hendaklah engkau menemani si Fulan dan membimbingnya.”

Seorang teman saya pada suatu hari mengadu bahwa ia baru saja keluar dari penjara, dan ia telah bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan tegas ia katakan: “Apakah ada seorang teman yang shalih yang sudi membimbingku? Apakah ada pendamping yang shalih yang bersedia duduk bersamaku? Saya menjawab: “Tentu saja ada!” Namun dengan memelas ia berkata: “Akan tetapi mereka semuanya menjauh dariku!”

Jika kita biarkan dia begitu saja, berarti kita mem-biarkan dia menjadi mangsa setan dan menjadi bala tentaranya. Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyukai orang-orang yang bertaubat, mengapakah kita tidak menyukai mereka? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:


“Demi Allah, sesungguhnya Allah sangat senang dengan taubat hamba-Nya melebihi senangnya sese-orang di antara kamu yang menemukan kembali ontanya yang hilang di padang luas.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Jika kita memang menyukai orang-orang yang bertau-bat, mengapakah kita tidak membimbing mereka kepada jalan kebenaran dan hidayah serta ketaatan? Sudah selayaknya kita menuntun mereka untuk berbuat taat.

Tentunya kita semua pernah mendengar kisah seorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, kemudian bertanya di manakah orang yang paling alim di muka bumi? Ia pun ditunjukkan kepada seorang rahib (pendeta). Ia pun bertanya kepada pendeta itu, apakah masih terbuka pintu taubat baginya, sementara ia telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa? Pendeta itu menjawab: “Tidak!” Maka ia pun membunuh pendeta itu sehingga genaplah seratus jiwa yang telah dibunuhnya. Lalu ia bertanya lagi, di manakah orang yang paling alim di muka bumi? Ia pun ditunjukkan kepada seorang ulama. Ia bertanya kepada ulama itu, apakah masih terbuka pintu taubat baginya, sementara ia telah membunuh seratus jiwa? Ulama itu menjawab: “Ya, siapakah yang menghalangimu dari pintu taubat?” Ulama itu telah memberikan lampu hijau kepadanya untuk menorehkan lembaran baru dalam hidupnya. Ulama itu berkata: “Pergilah engkau ke negeri A, di sana terdapat orang-orang shalih yang senantiasa mengesakan Allah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beribadah, ikutilah mereka!” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sekiranya orang itu menolak pergi ke negeri A tersebut, maka tidak ada pilihan baginya kecuali kembali kepada lingkungannya yang rusak. Namun takdir Allah shallallahu ‘alaihi wasallam menentukan lain, orang itu mati di tengah perjalanan menuju ke sana.

Oleh sebab itu wahai saudaraku, apabila datang seorang yang benar-benar ingin bertaubat, hendaklah kita bergembira dengan taubatnya itu. Namun masih saja ada yang mencibir: “Taubatnya belum seratus persen!” Kepada mereka saya katakan: “Wahai saudara-ku, barangkali ia masih khawatir atau takut kepada sebagian orang!” Atau masih saja ada yang mencemooh: “Ia baru kemarin meninggalkan alam maksiat, aku khawatir ia masih menyimpan sesuatu!” Dan masih ba-nyak lagi komentar-komentar lainnya, seperti: “Jangan-jangan ia nanti mengambil hartaku lalu minggat!” Apakah ini yang kau inginkan?!

Sikap seperti itu bersumber dari piciknya pan-dangan. Yaitu ketika pertama kali engkau berkenalan dengan seseorang langsung saja engkau tumpahkan segala uneg-unegmu kepadanya. Tahan dulu, jangan terburu-buru! Sebab bukan seperti itu caranya, akan tetapi hendaklah engkau teguhkan ia di atas ketaatan terlebih dulu, engkau luruskan dan engkau tuntun tangannya hingga timbul kepercayaan dirinya dan setelah itu ia dapat kembali ke daerahnya sebagai da’i kepada agama Allahsh shallallahu ‘alaihi wasallam ./

PANAH KEDUA:
PENYAKIT UJUB TERHADAP DIRI SENDIRI DAN AMAL

Salah seorang ulama salaf pernah berkata: “Seorang yang ujub akan tertimpa dua kehinaan, akan terbongkar kesalahan-kesalahannya dan akan jatuh martabatnya di mata manusia.”

Salah seorang ahli hikmah berkata: “Ada seorang yang terkena penyakit ujub, akhirnya ia tergelincir dalam kesalahan karena saking ujubnya terhadap diri sendiri. Ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil dari orang itu, ketika ia berusaha jual mahal dengan kemampuan dirinya, maka Imam Syafi’i pun memban-tahnya seraya berseru di hadapan khalayak ramai: “Barangsiapa yang mengangkat-angkat diri sendiri seca-ra berlebihan, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjatuhkan mar-tabatnya.”

Defenisi Ujub

Orang yang terkena penyakit ujub akan meman-dang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan mengang-gapnya bagai angin lalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits:


“Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya.”(HR. Al-Bukhari)

Bisyr Al-Hafi mendefenisikan ujub sebagai berikut: “Yaitu menganggap hanya amalanmu saja yang banyak dan memandang remeh amalan orang lain.”

Barangkali gejala paling dominan yang tampak pada orang yang terkena penyakit ujub adalah sikap suka melanggar hak dan menyepelekan orang lain. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah meringkas defenisi ujub sebagai berikut: “Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara’ dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya!”

Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam dengan salah satu dari tiga perkara ini: ujub terhadap diri sendiri, menganggap amalnya sudah banyak dan lupa terhadap dosa-dosanya. Dia berkata: “Saya tidak akan mencari cara lain.” Semua perkara di atas adalah sumber kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam karena tiupan angin? Berapa banyak ibadah yang rusak karena penyakit ujub? Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa seorang lelaki berkata: “Allah tidak akan mengampuni si Fulan! Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berkata:


“Siapakah yang lancang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni Fulan?! Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapus amalan-mu!”(HR. Muslim)

Amal shalih itu ibarat sinar dan cahaya yang terka-dang padam bila dihembus angin ujub!

Sebab-Sebab Ujub

1. Faktor Lingkungan dan Keturunan

Yaitu keluarga dan lingkungan tempat seseorang itu tumbuh. Seorang insan biasanya tumbuh sesuai dengan polesan tangan kedua orang tuanya. Ia akan menyerap kebiasaan-kebiasaan keduanya atau salah satunya yang positif maupun negatif, seperti sikap senang dipuji, selalu menganggap diri suci dll.

2. Sanjungan dan Pujian yang Berlebihan

Sanjungan berlebihan tanpa memperhatikan etika agama dapat diidentikkan dengan penyembelihan, seba-gaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits. Sering kita temui sebagian orang yang terlalu berlebihan dalam memuji hingga seringkali membuat yang dipuji lupa diri. Masalah ini akan kami bahas lebih lanjut pada bab berikut.

3. Bergaul Dengan Orang yang Terkena Penyakit Ujub

Tidak syak lagi bahwa setiap orang akan melatahi tingkah laku temannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri bersabda:


“Perumpamaan teman yang shalih dan teman yang jahat adalah seperti orang yang berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Teman akan membawa pengaruh yang besar dalam kehidupan seseorang.

4. Kufur Nikmat dan Lupa Kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Begitu banyak nikmat yang diterima seorang hamba, tetapi ia lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberinya nikmat itu. Sehingga hal itu menggiringnya kepada penyakit ujub, ia membanggakan dirinya yang sebenarnya tidak pantas untuk dibanggakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menceritakan kepada kita kisah Qarun;

“Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. (Al-Qashash: 78)

5. Menangani Suatu Pekerjaan Sebelum Matang Dalam Menguasainya dan
Belum Terbina Dengan Sempurna

Demi Allah, pada hari ini kita banyak mengeluhkan problematika ini, yang telah banyak menimbulkan berbagai pelanggaran. Sekarang ini banyak kita temui orang-orang yang berlagak pintar persis seperti kata pepatah ‘sudah dipetik sebelum matang’. Berapa banyak orang yang menjadi korban dalam hal ini! Dan itu termasuk perbuatan sia-sia. Yang lebih parah lagi adalah seorang yang mencuat sebagai seorang ulama padahal ia tidak memiliki ilmu sama sekali. Lalu ia berkomentar tentang banyak permasalahan, yang terkadang ia sendiri jahil tentang hal itu. Namun ironinya terkadang kita turut menyokong hal seperti ini. Yaitu dengan memperkenalkannya kepada khalayak umum. Padahal sekarang ini, masyarakat umum itu ibaratnya seperti orang yang menganggap emas seluruh yang berwarna kuning. Kadangkala mereka melihat seorang qari yang merdu bacaannya, atau seorang sastrawan yang lihai berpuisi atau yang lainnya, lalu secara membabi buta mereka mengambil segala sesuatu dari orang itu tanpa terkecuali meskipun orang itu mengelak seraya berkata: “Aku tidak tahu!”

Perlu diketahui bahwa bermain-main dengan sebuah pemikiran lebih berbahaya daripada bermain-main dengan api. Misalnya beberapa orang yang berse-pakat untuk memunculkan salah satu di antara mereka menjadi tokoh yang terpandang di tengah-tengah kaumnya, kemudian mengadakan acara penobatannya dan membuat-buat gelar yang tiada terpikul oleh siapa pun. Niscaya pada suatu hari akan tersingkap kebobrok-annya. Mengapa!? Sebab perbuatan seperti itu berarti bermain-main dengan pemikiran. Sepintas lalu apa yang mereka ucapkan mungkin benar, namun lambat laun masyarakat akan tahu bahwa mereka telah tertipu!

6. Jahil dan Mengabaikan Hakikat Diri (Lupa Daratan)

Sekiranya seorang insan benar-benar merenungi dirinya, asal-muasal penciptaannya sampai tumbuh men-jadi manusia sempurna, niscaya ia tidak akan terkena penyakit ujub. Ia pasti meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dihindarkan dari penyakit ujub sejauh-jauhnya. Salah seorang penyair bertutur dalam sebuah syair yang dituju-kan kepada orang-orang yang terbelenggu penyakit ujub:

Hai orang yang pongah dalam keangkuhannya.
Lihatlah tempat buang airmu, sebab kotoran itu selalu hina.
Sekiranya manusia merenungkan apa yang ada dalam perut mereka, niscaya tidak ada satupun orang yang akan menyombongkan dirinya, baik pemuda maupun orang tua.
Apakah ada anggota tubuh yang lebih dimuliakan selain kepala?
Namun demikian, lima macam kotoranlah yang keluar darinya!
Hidung beringus sementara telinga baunya tengik.
Tahi mata berselemak sementara dari mulut mengalir air liur.
Hai bani Adam yang berasal dari tanah, dan bakal dilahap tanah,tahanlah dirimu (dari kesombongan), karena engkau bakal menjadi santapan kelak.

Penyair ini mengingatkan kita pada asal muasal penciptaan manusia dan keadaan diri mereka serta kesu-dahan hidup mereka. Maka apakah yang mendorong mereka berlagak sombong? Pada awalnya ia berasal dari setetes mani hina, kemudian akan menjadi bangkai yang kotor sedangkan semasa hidupnya ke sana ke mari membawa kotoran.

7. Berbangga-bangga Dengan Nasab dan Keturunan

Seorang insan terkadang memandang mulia diri-nya karena darah biru yang mengalir di tubuhnya. Ia menganggap dirinya lebih utama dari si Fulan dan Fulan. Ia tidak mau mendatangi si Fulan sekalipun ber-kepentingan. Dan tidak mau mendengarkan ucapan si Fulan. Tidak syak lagi, ini merupakan penyebab utama datangnya penyakit ujub.

Dalam sebuah kisah pada zaman kekhalifahan Umar radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa ketika Jabalah bin Al-Aiham memeluk Islam, ia mengunjungi Baitullah Al-Haram. Sewaktu tengah melakukan thawaf, tanpa sengaja se-orang Arab badui menginjak kainnya. Tatkala mengetahui seorang Arab badui telah menginjak kainnya, Jabalah langsung melayangkan tangannya memukul si Arab badui tadi hingga terluka hidungnya. Si Arab badui itu pun melapor kepada Umar radhiyallahu ‘anhu mengadukan tindakan Jabalah tadi. Umar radhiyallahu ‘anhu pun memanggil Jabalah lalu ber-kata kepadanya: “Engkau harus diqishash wahai Jabalah!” Jabalah membalas: “Apakah engkau menjatuhkan hukum qishash atasku? Aku ini seorang bangsawan se-dangkan ia (Arab badui) orang pasaran!” Umar radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Islam telah menyamaratakan antara kalian berdua di hadapan hukum!”

Tidakkah engkau ketahui bahwa:

Islam telah meninggikan derajat Salman seorang pemuda Parsi
Dan menghinakan kedudukan Abu Lahab ka-rena syirik yang dilakukannya.

Ketika Jabalah tidak mendapatkan dalih untuk melepaskan diri dari hukuman, ia pun berkata: “Berikan aku waktu untuk berpikir!” Ternyata Jabalah melarikan diri pada malam hari. Diriwayatkan bahwa Jabalah ini akhirnya murtad dari agama Islam, lalu ia menyesali perbuatannya itu. Wal ‘iyadzubillah

8. Berlebih-lebihan Dalam Memuliakan dan Menghormati

Barangkali inilah hikmahnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang sahabat-sahabat beliau untuk berdiri menyambut beliau. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri menyambutnya, maka bersiaplah dia untuk menempati tempatnya di Neraka.”(HR. At-Tirmidzi, beliau katakan: hadits ini hasan)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Janganlah kamu berdiri menyambut seseorang seperti yang dilakukan orang Ajam (non Arab) sesama mereka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu)

9. Lengah Terhadap Akibat yang Timbul dari Penyakit Ujub

Sekiranya seorang insan menyadari bahwa ia hanya menuai dosa dari penyakit ujub yang menjangkiti dirinya dan menyadari bahwa ujub itu adalah sebuah pelanggaran, sedikitpun ia tidak akan kuasa bersikap ujub. Apalagi jika ia merenungi sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:


“Sesungguhnya seluruh orang yang sombong akan dikumpulkan pada hari Kiamat bagaikan semut yang diinjak-injak manusia.” Ada seseorang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah seseorang itu ingin agar baju yang dikenakannya bagus, sandal yang dipakainya juga bagus?” Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah, dan menyukai keindahan, hakikat sombong itu ialah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, awal hadits berbunyi: “Tidak akan masuk Surga orang yang terdapat sebesar biji zarrah kesombongan dalam hatinya).

Dampak ujub

1. Jatuh dalam jerat-jerat kesombongan, sebab ujub merupakan pintu menuju kesombongan.

2. Dijauhkan dari pertolongan ilahi. Allah shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman:

“Orang-orang yang berjihad (untuk mencari keri-dhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut: 69)

3. Terpuruk dalam menghadapi berbagai krisis dan cobaan kehidupan.

Bila cobaan dan musibah datang menerpa, orang-orang yang terjangkiti penyakit ujub akan berteriak: ‘Oii teman-teman, carilah keselamatan masing-masing!’ Berbeda halnya dengan orang-orang yang teguh di atas perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala , mereka tidak akan melanggar rambu-rambu, sebagaimana yang dituturkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Siapakah yang mampu lari dari hari kematian?
Bukankah hari kematian hari yang telah ditetap-kan?
Bila sesuatu yang belum ditetapkan, tentu aku dapat lari darinya.
Namun siapakah yang dapat menghindar dari takdir?

4. Dibenci dan dijauhi orang-orang. Tentu saja, seseorang akan diperlakukan sebagaimana ia memperla-kukan orang lain. Jika ia memperlakukan orang lain dengan baik, niscaya orang lain akan membalas lebih baik kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghor-matan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An-Nisa’: 86)

Namun seseorang kerap kali meremehkan orang lain, ia menganggap orang lain tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Tentu saja tidak ada orang yang senang kepadanya. Sebagaimana kata pepatah ‘Jika engkau menyepelekan orang lain, ingatlah! Orang lain juga akan menyepelekanmu’

5. Azab dan pembalasan cepat ataupun lambat. Se-orang yang terkena penyakit ujub pasti akan merasakan pembalasan atas sikapnya itu. Dalam sebuah hadits dise-butkan:


“Ketika seorang lelaki berjalan dengan mengenakan pakaian yang necis, rambut tersisir rapi sehingga ia takjub pada dirinya sendiri, seketika Allah membenamkannya hingga ia terpuruk ke dasar bumi sampai hari Kiamat.”(HR. Al-Bukhari)

Hukuman ini dirasakannya di dunia akibat sifat ujub. Seandainya ia lolos dari hukuman tersebut di du-nia, yang jelas amalnya pasti terhapus. Dalilnya adalah hadits yang menceritakan tentang seorang yang bersumpah atas nama Allah bahwa si Fulan tidak akan diampuni, ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni si Fulan dan menghapus amalnya sendiri.

Dengan begitu kita harus berhati-hati dari sifat ujub ini, dan hendaknya kita memberikan nasihat kepada orang-orang yang terkena penyakit ujub ini, yaitu orang-orang yang menganggap hebat amal mereka dan menyepelekan amal orang lain./

PANAH KETIGA:
SANJUNGAN YANG MENGHANYUTKAN

Imam Ats-Tsauri menuturkan: “Apabila engkau bukan termasuk orang yang takjub terhadap diri sendiri, hal lain yang perlu diingat ialah; hindarilah sifat senang disanjung orang.” Maksudnya bukan orang lain tidak boleh memuji perbuatanmu itu, tetapi janganlah kamu meminta pujian dari orang lain. Hendaknya engkau selalu berhubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan selalu mengingatnya-pent). Dalam sebuah hadits disebutkan:


“Barangsiapa yang mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, meskipun menimbulkan kemarahan manusia, niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meridhainya dan akan membuat manusia ridha terhadapnya. Dan barangsiapa yang mencari kesenangan manusia, hingga membuat Allah murka maka Allah murka kepadanya dan membuat manusia murka terhadapnya.” (HR. At-Tirmidzi).

Dan dalam suatu riwayat: Dua orang yang memu-jinya akan balik mencelanya.

Ats-Tsauri berkata: Dalam kategori ini: Engkau menginginkan mereka memuliakanmu dan senang jika engkau mendapat kehormatan dan kedudukan di hati mereka. Menurut hemat saya korban panah macam ini banyak sekali tapi mereka bermacam-macam bentuknya, yang sebagian tidak begitu tampak karena sebagian orang memahami pujian hanya dari satu sisi saja dan melupakan sisi yang lain, di antaranya juga ada yang datang dari sisi senang dipuji oleh orang lain lewat perkataan. Dan banyak orang ingin membaca kehebatan bola ghoh orang yang memujinya samapi-sampai ada yang menunjukkan bahwa pujian-pujian itu adalah memang bukti nyata keadaan orang yang dipujinya seolah-olah dia mengatakan seperti apa yang dikatakan seorang laki-laki yang berdiri di depan Musailamah Alkadzab yang mengaku-aku sebagai nabi, Musailamah berkata kepadanya: “Aku lebih tahu apa yang ada dalam hatimu!” Orang itu berkata kepadanya: “Aku juga tahu apa yang ada di dalam hatimu!” “Apa itu!” sergah Musailamah. Orang itu menjawab: “Demi Allah, aku tahu sebenarnya engkau menyadari bahwa sesungguh-nya aku mengetahui engkau adalah seorang pendusta!”

Oleh sebab itu, hendaknya seseorang menyederhanakan bahasa dan tutur katanya. Jangan sampai lisannya menjadi batu sandungan bagi dirinya, sebab dosa yang dituai lisan pada umumnya dari hal semacam ini. Seandainya orang yang senang dipuji selalu ingat (bahaya yang timbul dibalik pujian), niscaya ia menyadari bahwa dialah yang paling mengetahui akan kelemahan dirinya sendirinya. Namun manusia itu selalu lupa, mudah terpedaya dan suka berpaling dari nasihat orang lain yang mengajarkan kepadanya etika pergaulan dan nilai-nilai agama. Seorang ahli hikmah bertutur dalam syairnya:

Hai orang jahil yang terbuai dengan sanjungan meng-hanyutkan
Kejahilan orang yang menyanjungmu jangan sampai menguasai kesadaranmu akan kadar dirimu
Pujian dan sanjungan itu ia ucapkan tanpa sepe-ngetahuannya tentang hakikat dirimu
Dirimulah yang lebih mengetahui tentang baik buruknya dirimu

Sekiranya kesadaran itu belum juga tumbuh, maka simaklah penuturan Al-Fudhail bin ‘Iyadh yang telah meletakkan kaidah untuk mengetahui kadar diri, beliau berkata: “Di antara tanda-tanda orang munafik adalah senang dipuji atas sesuatu yang tidak ada pada dirinya, benci celaan atas kejelekan yang ada pada dirinya, dan marah terhadap orang yang mengoreksi kekurangan-nya.”

Segeralah introspeksi dirimu wahai saudaraku! Sekiranya seseorang datang secara pribadi berkata: “Saya melihat kekuranganmu ini dan ini”, apakah wajah-mu lantas memerah lalu engkau memakinya, engkau tetap tidak bergeming dari kekurangan itu! Bahkan mengomel sambil berkomat-kamit mengucapkan laa haula wala quwwata illa billah!

Ataukah engkau berkata: “Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kekuranganku”

Engkau akan dapati orang tersebut menjadi korban sanjungan menghanyutkan itu. Seandainya seseorang menyanjungnya, hatinya langsung berbunga-bunga, girang-gembira dan tenggelam dalam khayalan-khayalan indah. Mengapa? Sebab dirinya akan terbuai dengan sanjungan itu. Namun jika datang orang lain yang mena-sihatinya, sikapnya langsung berubah aneh, dadanya menjadi sempit, langsung ditimpalinya dengan omelan panjang, dan keluar kata-kata keji lagi kasar dari lisan-nya.

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menutupi kesalahan-kesalahan kita, dan itu merupakan nikmat yang sangat besar. Setiap orang tentu lebih tahu tentang rahasia dirinya sendiri daripada orang lain. Pujian orang lain kepada kita hanyalah jaring-jaring godaan yang dilemparkan setan untuk menjerat diri kita. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melindungi kita dari godaan setan dan perangkapnya.

Seorang ulama salaf bernama Khalid bin Shafwan rahimahullah banyak menyelidiki psikologis bani Adam, ia berkata: “Berapa banyak orang yang terpedaya dengan sitrullah (tirai Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menutupi kesalahan manu-sia) dan tergoda dengan sanjungan orang. Maka jangan sampai kejahilan orang yang menyanjungmu menguasai kesadaranmu akan kadar dirimu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan kita termasuk golongan mereka.

Jenis pujian lainnya adalah memuji diri sendiri atas kekurangan yang ada padanya. Ini termasuk rekomen-dasi terhadap diri sendiri. Sebagian orang sengaja memuji diri sendiri di hadapan orang banyak. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

 “Janganlah kamu menganggap diri kamu suci” (An-Najm: 32)

Dan perbuatan tadi termasuk menganggap suci diri sendiri. Rabbah Al-Qaisi pernah ditanya: “Apakah yang dapat merusak amalan seseorang?” Beliau menja-wab: “Sanjungan orang dan lupa terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberi nikmat”

Seorang penyair berkata:

Sungguh aneh orang yang memuji dirinya sendiri
Namun tidak menyadari bahwa pujiannya itu sendiri adalah kekurangan dirinya
Seorang pemuda memuji diri atas kekurangan yang ada padanya,
menyebut-nyebut aibnya sendiri hingga diketahui kejelekannya

Hendaknya seorang muslim menjauhi perbuatan seperti ini. Ada lagi yang lebih aneh, sebagian orang yang telah dijangkiti sifat ujub membongkar rahasianya sendiri dengan mencela diri sendiri di hadapan orang lain. Mereka menyangka bahwa perbuatan seperti itu akan melahirkan anggapan baik orang lain terhadap mereka, bahwa mereka jauh dari sifat ujub dll. Sungguh mereka tidak menyadari bahwa sifat tawadhu’ merupakan karunia ilahi tidak dapat dibuat-buat seperti itu. Barangsiapa yang mencela dirinya sendiri di hadapan orang banyak, sebenarnya ia telah memuji dirinya, dan yang demikian itu termasuk tanda-tanda riya’ sebagaimana yang dituturkan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah.

Yang tidak kalah aneh adalah sikap sebagian orang mencela kanan kiri seolah-olah bertindak sebagai wasit (penengah). Padahal sebenarnya ia tidak menengahinya. Ia tidak menasihati orang itu karena takut akan membakar kemarahannya, dan tidak pula memujinya karena khawatir akan ditentang orang banyak. Tetapi ia menyebut kekurangan orang lain. Sebenarnya perbuatan-nya itu adalah pujian atas dirinya sendiri. Dan ia pun sebenarnya tidak menyebutkan penyimpangan yang ada pada saudaranya itu, namun ia cela si Umar sebagai orang yang lugu, si Zaid sebagai pemalas dan lain sebagainya. Dengan itu jiwanya pun menjadi puas dan senang. Realita seperti ini sangat cocok dengan ucapan Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah: “Sesungguhnya di antara ciri-ciri orang munafik adalah senang jika mendengar aib saudaranya.”

Oleh sebab itu, apabila kaum salaf mendengar aib salah seorang saudaranya dibeberkan di hadapannya, ia akan marah. Ia akan lihat terlebih dahulu apakah hal itu memang benar atau tidak! Dan kadangkala mereka menegur orang yang membeberkan dan menyuruhnya untuk menyebutkan langsung hal itu kepada yang bersangkutan.

Betapa bahagia orang yang dapat menjaga diri dari panah-panah setan tersebut. Selalu mengoreksi diri dan menyadari kekurangan dirinya. Lalu menyadari bahwa seberapapun banyak amal yang dikerjakannya, tetap kecil dibandingkan dengan kewajiban bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat-nikmat yang telah tercurah kepadanya. Hendaklah selalu kita ingat salah satu dari tujuh orang yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu seorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dan seperti orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan untuk beramal shalih, yang tidak diketahui kecuali oleh segelintir orang saja. Manfaat amalnya dapat dirasakan segenap kaum muslimin, namun mereka tidak mengetahui orang yang melakukannya. Dalam hadits dikisahkan tentang seorang lelaki yang berkata: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: “Seorang kaya telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya.” Ia berkata lagi: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam kedua dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: “Seorang pencuri telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sede-kahku jatuh ke tangan orang kaya dan seorang pencuri.” Ia berkata lagi: “Saya akan mengeluarkan sedekah!” Kemudian dia keluar pada malam hari dengan membawa sedekahnya itu. Ternyata sedekahnya itu jatuh ke tangan seorang pelacur. Keesokan harinya orang-orang pada membicarakan peristiwa itu. Mereka berkata: “Seorang pelacur telah diberi sedekah!” Lelaki itu hanya berdoa: “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekahku jatuh ke tangan orang kaya, seorang pencuri dan pelacur.” Kemudian ditanyakan kepadanya perihal tersebut, ia pun berkata: “Semoga orang kaya itu dapat memetik pelajaran hingga bersedia mengeluarkan kewajiban zakatnya, semoga si pencuri itu dapat menjaga kehormatan dirinya dengan harta itu, dan semoga si pelacur dapat menjaga kehor-matan dirinya dengan harta itu hingga dapat meninggal-kan perbuatan zina.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dari hadits itu dapat kita ketahui bahwa para sahabat  lebih suka bila hubungan antara mereka dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak diketahui orang banyak. Mereka tidak suka orang lain mengetahui apa yang mereka amalkan. Mudrik bin ‘Aun Al-Ahmas berkata: “Ketika aku berada di sisi Umar radhiyallahu ‘anhu, datanglah utusan An-Nu’man. Umar radhiyallahu ‘anhu pun menanyakannya tentang keadaan pasukan. Utusan itu menyebutkan orang-orang yang terluka dan terbunuh di Nahawand, ia berkata: “Si Fulan bin Fulan, Fulan bin Fulan dan lain-lain yang tidak engkau kenal. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui mereka.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Akan tetapi Dzat Yang telah mengkaruniakan mereka syahadah (mati syahid) mengetahui wajah dan nasab mereka.”

Dalam kisah yang lain disebutkan ketika Masla-mah bin Abdulmalik kesulitan merebut sebuah benteng yang tengah dikepungnya. Benteng itu sangat kokoh sehingga sulit ditaklukkan. Maslamah berkata kepada pasukannya: “Siapakah yang berani masuk menerobos lewat jendela itu (ternyata pada benteng itu ada sebuah jendela), untuk membuka pintu benteng dari dalam?” Maka majulah seorang yang bertutup muka, ia segera menerobos jendela itu dan membuka pintu benteng dari dalam. Begitu pintu terbuka pasukan kaum muslimin segera menyerbu masuk ke dalam benteng, dan terja-dilah pertempuran yang sengit. Akhirnya pasukan kaum muslimin dapat menaklukkan musuh. Selesai peperangan, Maslamah duduk-duduk bersama segenap pasukannya. Ia berkata: “Siapakah engkau wahai orang yang bertutup muka?” Namun segenap pasukan diam membisu! Masla-mah berseru sekali lagi: “Siapakah engkau wahai orang yang bertutup muka?” Namun mereka masih saja diam. Akhirnya Maslamah berkata: “Demi Allah, wahai orang yang bertutup muka, silakan datang menemuiku siang atau malam hari!” Pada malam harinya tiba-tiba ada orang yang menggerak-gerakkan tenda Maslamah, Maslamah bertanya: “Apakah engkau orang yang bertutup muka itu?” Orang itu menjawab: “Orang yang bertutup muka itu membuat beberapa persyaratan kepada kalian.” “Apa itu?” tanya Maslamah. “Ia mensyaratkan agar kalian tidak bertanya tentang namanya dan nama ayahnya, dan kalian jangan memberinya hadiah serta jangan laporkan namanya kepada khalifah” jawab orang itu. “Kami penuhi syarat-syaratnya!” balas Maslamah. Orang itu berkata: “Akulah orang yang bertutup muka itu!”

Tidakkah engkau lihat wahai saudaraku, keikhlasan telah meluruskan amalnya. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kita dijauhkan dari setan dan dihindarkan dari panah-panahnya. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mencurahkan keikhlasan kepada kita dalam berucap dan beramal. Dan kita tutup permohonan ini dengan mengucapkan Alhamdu-lillahi Rabbil ‘Alamin.

TANYA JAWAB TERKAIT

Soal Pertama

Saya adalah seorang pemuda baik-baik yang masih duduk di bangku sekolah. Namun mayoritas teman-teman saya di kelas adalah anak-anak nakal, sering berbuat jahat dan melakukan perbuatan haram. Saya mohon agar Anda menjelaskan cara terbaik mengajak mereka untuk meninggalkan maksiat, hingga mereka menyukai saya dan menyukai perbuatan baik.

Jawab

Saya anjurkan kepada Anda dan kepada pemuda yang berada di tengah-tengah lingkungan pergaulan yang kurang baik agar jangan sekali-kali menggurui anak-anak nakal tersebut. Namun pertama kali hendaknya Anda memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengatasi mereka. Kemudian hadiahkanlah kepada mereka (anak-anak nakal tersebut) kaset-kaset ceramah, buku-buku islami, atau tulislah surat berisi nasihat kepada mereka. Atau boleh juga Anda meminta bimbingan dan pengarahan dari guru-guru di sekolah, dengan melaporkan masalah tersebut kepada mereka dan menjelaskan solusinya sehingga mereka bisa ikut serta dalam menanggulangi masalah itu. Dengan cara seperti itu Anda telah memain-kan peranan yang sangat berarti dalam medan dakwah. Dan tidak perlu Anda melaporkan nama-nama mereka kepada guru. Jika Anda tidak mampu menghadiahkan kaset atau buku kepada mereka, hendaknya Anda mencari orang yang mampu untuk menghadiahkannya. Bila Anda melihat mereka semakin sombong, menjauhi Anda dan tetap berbuat jahat, hendaknya engkau hindari berkumpul bersama mereka. Sehingga perbuatan jahat mereka tidak menular kepada diri Anda, dan juga agar Anda tidak melihat maksiat dan kemungkaran sementara Anda tidak dapat melarangnya. Adapun mengenai pindah sekolah, masalah itu terserah Anda, boleh jadi keberada-an Anda di situ justru banyak memperbaiki keadaan. Se-moga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi hidayah kepada kaum muslimin yang tersesat.

Soal kedua

Apa peran yang dapat saya lakukan terhadap se-orang yang mulai menurun nilai ketaatannya?

Jawab

Peran Anda sangat besar dalam membimbingnya, janganlah Anda sepelekan peran Anda tersebut. Hendak-nya Anda berusaha membimbingnya dan sering mengajak-nya berdialog serta menyuntikkan motivasi kepadanya untuk kembali berbuat taat. Boleh juga Anda utus seorang yang shalih seperti Anda untuk menasihatinya. Jangan biarkan ia menjadi mangsa setan. Dan hendak-nya Anda menjelaskan kepadanya azab dan siksa yang bakal dirasakan oleh orang-orang yang berbuat dosa. Dan hendaknya Anda menghadiahkan kaset-kaset dan buku-buku yang dapat menguatkan keimanannya.

Soal ketiga

Sebagian orang ada yang mengaku seorang multazim (taat beragama), padahal ia sering durhaka terhadap kedua orang tuanya. Bagaimana nasihat Anda dalam masalah ini?

Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyertakan hak kedua orang tua dengan hak-Nya. Dalam Al-Quran disebutkan:

“Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman: 14)

dalam ayat lain Allah berfirman:

 “Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah ka-mu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra’: 23)

Orang yang ditanyakan di dalam soal tadi pada hakikatnya tidak mengerti makna “iltizam“, bagaimana mungkin disebut multazim jika kemungkaran yang besar ini (yaitu durhaka terhadap ibu bapak) ada pada dirinya? Seorang pemuda muslim hendaknya selalu berbakti kepada ayah bundanya, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman: “Maka janganlah kamu katakan ‘ah’ kepada keduanya”, apalagi engkau membentak keduanya dengan ucapan jika mengatakan ‘ah’ saja sudah dila-rang!? Jika demikian adanya, maka hal itu jelas menunjukkan bahwa nilai iltizamnya lemah. Bagi yang mengetahui hal itu hendaklah memberikan nasihat kepadanya, dan bagi orang tersebut hendaklah segera bertaubat kepada Allah.

Soal keempat

Apakah ujub itu amal lahiriyah ataukah amal batin (hati)?

Jawab

Ujub berpangkal dari goresan hati yang teraplikasi dalam aktifitas sehari-hari. Jika seorang telah terjangkiti penyakit ujub, ia akan membanggakan diri sendiri dan meremehkan orang lain. Dari situ ia akan benci mene-rima kebenaran dari orang lain. Di samping itu, ia suka kepada orang yang membangga-banggakan dirinya.

Soal kelima

Apakah perasaan senang dan bahagia atas amalan yang telah kukerjakan seperti shalat malam, puasa dan mengingat-ingat amalan tersebut sepanjang hari terma-suk kategori ujub?

Jawab

Sebaiknya Anda tidak menganggap banyak amalan seperti itu, Anda memang boleh berbahagia dapat me-ngerjakan amalan tersebut, yang demikian itu sangat terpuji. Namun jangan sekali-kali Anda terpedaya setiap kali mengerjakan suatu amalan seperti shalat malam misalnya, bahwa Anda telah mengerjakan amalan yang banyak, barangkali orang lain tidak mampu melakukan seperti yang Anda lakukan. Sebaiknya kebahagian Anda itu diwujudkan dalam bentuk pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan senantiasa bersyukur kepada-Nya yang telah memu-dahkan Anda untuk mengerjakannya. Yang jelas, jangan-lah Anda menganggap banyak amalan ini, dan jangan pula Anda ceritakan kepada orang lain, sebab itu adalah pintu menuju riya’, kecuali bila terdapat maslahat dakwah atau maslahat lainnya dengan menceritakannya. Seperti yang dialami oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ketika Rasu-lullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapakah di antara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini? Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab: “Saya”.

Soal keenam

Bagaimana pendapat Anda dengan ucapan “Bersi-kap sombong terhadap orang sombong adalah ibadah”?

Jawab

Kesalahan jangan diperbaiki dengan kesalahan pula, Seperti dalam permainan olah raga ada istilah draw kosong-kosong. Sebagaimana yang diungkapkan dalam sebuah syair:

Ingatlah! Jangan sampai ada orang yang berbuat jahil terhadap kami
Niscaya kami akan berbuat jahil terhadapnya melebihi kejahilan yang pernah ada

Telah kita ketahui bersama bahwa sifat sombong itu tercela. Maka jika kita melihat seseorang terkena penyakit sombong, ucapkanlah: “Alhamdulillah yang telah menyelamatkan daku dari penyakit sombong yang ada pada orang itu”. Dan doakanlah semoga ia mendapat hidayah serta berilah nasihat kepadanya semampumu. Perlu diketahui, kita tidak boleh menganggap sesuatu itu ibadah padahal sebenarnya bukan termasuk ibadah.

Soal ketujuh

Saya mohon agar Anda menjelaskan kepada kami bahaya yang timbul dari gerombolan pemuda yang ber-kumpul di tepi-tepi jalan, persimpangan, pertokoan dan tempat-tempat lain serta ejekan mereka yang pedas terhadap orang yang coba menasihati dan menerangkan bahaya yang timbul dari perbuatan mereka.

Jawab

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada para sahabat  kewajiban orang yang duduk-duduk di tepi jalan, beliau bersabda:


“Hindarilah duduk-duduk di tepi-tepi jalan!” Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami tidak punya tempat lain selain itu, kami biasa berbincang-bincang di situ! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Jika kalian bersikeras, maka penuhilah hak jalan” Mereka bertanya: “Apa itu hak jalan?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Menundukkan pandangan, tidak mengganggu orang, menjawab salam dan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.” (HR. Al-Bukhari dan Mus-lim)

Hendaknya pemuda-pemuda yang berkumpul di pinggir jalan dan di tempat-tempat lainnya mengetahui kewajiban tersebut, jika ada yang mengucapkan salam kepada mereka lalu mereka tidak menjawab salamnya, maka mereka semua berdosa. Seandainya lewat sese-orang yang pendek atau yang jangkung atau lewat seorang wanita atau anak-anak, hingga pandangan tertuju padanya kemudian mereka mencemooh ini dan itu, mereka jelas berdosa. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh orang-orang yang tidak menyadari akibat buruknya. Akan tetapi, apa peran kita dalam menanggulanginya? Apakah kita hanya bisa mengeluhkan fenomena ini? Saya dapat memaklumi problema yang dihadapi saudara saya yang dicemooh gerombolan pemuda itu setiap kali berusaha menasihati mereka. Sekiranya khawatir mereka akan menuduh kita ekstrim, sok alim dan lain sebagai-nya, bukankah hal itu tidak merugikan kita sedikit pun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan kita dalam hal ini. Beliau telah merasakan dua macam gangguan, cemoohan dan ejekan, ada yang mengatai beliau gila, tukang sihir, dukun dan lain sebagainya. Apakah mereka mengejek Anda demikian? Jikalau memang demikian, tentu itu menunjukkan bahwa Anda berjalan di atas petunjuk Nabi. Yang kedua adalah gangguan fisik, rumah beliau pernah dilempari kotoran hingga beliau berkata: “Tetangga seperti apakah ini?”, diletakkan isi perut unta ke atas kepala beliau ketika tengah sujud, dicekik dengan keras hingga nyaris terbunuh, terluka kepala beliau, putus gigi beliau dan penduduk Thaif memprovokasi anak-anak serta orang-orang pasaran untuk melempari beliau dengan batu hingga terluka kedua kaki beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan: “Aku pun kembali dengan perasaan sedih, tanpa sadar aku telah sampai di Qarnu Tsa’alib.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang patut menjadi teladan yang baik bagi kita semua. Sampaikan-lah nasihat yang tulus kepada mereka dan jangan hiraukan apa yang mereka katakan. Ketahuilah hal itu justru mengangkat derajat Anda di sisi Allah. Dan sebaiknya kita tangani serius gerombolan pemuda itu, misalnya kita berjumlah sepuluh orang, tentu tidak mungkin mereka mengejek kita yang berjumlah sepuluh orang, minimal mereka akan berpikir dan diam. Demikianlah lakukan sekali, dua kali dan seterusnya. Mengapa tidak ada yang berani mendatangi mereka untuk mengajak bicara? Barangkali mereka mau mendengar nasihat, semoga Allah memberi mereka hidayah. Atau barangkali mereka akan bubar, dengan demikian kejahatan mereka dapat ditekan. Kesimpulannya adalah kita harus melaku-kan sesuatu untuk menyadarkan mereka.

Peran imam masjid dan masyarakat kaum muslimin sangat besar dan berarti dalam menanggulangi masalah ini. Janganlah hanya bisa mengeluh tanpa dapat memberi-kan solusi yang tepat untuk mengatasinya.

Soal kedelapan

Sebagian pemuda memiliki sifat tercela, yaitu ber-beda-beda dalam mensikapi orang. Sikapnya terhadap si Zaid misalnya lemah lembut dan bermanis muka, namun terhadap yang lain bermuka masam. Hampir-hampir kita tidak dapat mempercayainya. Jika coba dinasihati, dengan santai ia menjawab: “Bukankah hati manusia itu ibarat pasukan yang telah dipersiapkan? Bagaimana pendapat Anda dengan jawaban tersebut?

Jawab

Memang benar, arwah itu ibarat pasukan yang sudah dipersiapkan, yang cocok akan mudah bersatu, yang tidak cocok akan bercerai. Namun Dienul Islam melarang Anda menimbang dengan dua timbangan (tidak fair dalam menilai). Sebab yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang paling bertakwa. Dan Dienul Islam menganjurkan kita berinteraksi sosial dengan baik. Sebaiknya pemuda yang memiliki sifat seperti itu diluruskan dan diperbaiki. Maka hendaknya Anda bersi-kap fair dalam menghadapi orang. Apabila perbedaan sikap itu muncul karena suatu urusan, atau untuk berbasa-basi, tidak cukup dengan bermuka masam saja, namun harus disertai dengan nasihat. Dalam Shahih Al-Bukhari dikisahkan ketika seorang Arab badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata:

“Izinkanlah ia masuk, ia adalah sejelek-jelek pemimpin kaum.” Ketika ia masuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersikap ramah dan bermanis muka terhadapnya. Melihat hal itu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun menjawab: “Seburuk-buruk manusia adalah yang dijauhi orang karena takut akan keja-hatannya.”

Oleh sebab itu wahai saudaraku, Dienul Islam tidak membenarkan Anda menimbang dengan dua timbangan (tidak fair dalam menilai), jika Anda membenci sese-orang karena suatu sebab, maka ungkapkanlah kepada yang bersangkutan.

Soal kesembilan

Banyak sekali saya temui para pemuda yang meng-alami kelesuan dalam aktifitas dakwahnya, bagaimanakah solusi masalah ini?

Jawab

Sebenarnya kita sendirilah yang menciptakan kelesuan itu dan kita sendiri juga yang menebarkannya. Dan Anda adalah salah satu di antaranya. Kadangkala kita juga diliputi kelesuan tanpa kita sadari. Sebagai contoh, bila Anda biasa berdakwah di kampung-kam-pung, di sekolah, di tempat kerja, atau tempat-tempat lain yang menjadi lahan dakwah Anda, lalu Anda melihat seseorang melakukan sebuah penyimpangan, sebenarnya yang harus Anda lakukan adalah memberikan nasihat atau satu dua patah kalimat yang bermanfaat untuknya. Apakah Anda melakukan seperti itu? Alangkah baiknya jika Anda bertolak dari rumah dengan niat yang baik yaitu menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, menebar nasihat dan berbuat baik, niscaya Anda akan mendapat pahala yang besar atas niat tersebut. Dan sebaiknya Anda bekerja sama dengan teman-teman Anda dalam mengemban misi dakwah ilallah, sebab kerja sama itu akan membuat Anda lebih kuat.

Soal kesepuluh

Setelah menjalani kehidupan jahiliyah akhirnya Allah  menganugerahkan hidayah kepadaku. Namun kadang-kala aku masih sering melihat perkara yang diharamkan. Saya mohon bimbingan Anda.

Jawab

Tentu saja seorang yang baru saja berhijrah dari kehidupan jahiliyah kepada kehidupan yang Islami masih terimbas dalam hatinya sisa-sisa masa lalu. Oleh sebab itu, Anda harus membentengi diri dengan amalan-amalan ketaatan. Dan memilih teman-teman yang baik serta berusaha mengerjakan amal shalih sebanyak mungkin. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Huud: 114)

Dan hendaknya Anda menjauhkan diri dari seluruh perkara yang dapat mengingatkan masa lalu Anda. Hingga nilai hijrah anda menjadi kokoh insya Allah. Kemudian jadilah penyeru kepada agama Allah.

Soal kesebelas

Sebagian pemuda masih suka menyorotkan pan-dangan mereka kepada yang diharamkan Allah. Bagai-manakah cara penyembuhan dari penyakit ini?

Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman kepada Nabi-Nya:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: “Hen-daklah mereka menahan pandangannya.” (An-Nur: 30)

Ayat di atas memerintahkan Anda untuk menahan pandangan dari yang diharamkan. Jika pandangan Anda tiba-tiba tertumbuk pada sesuatu yang diharamkan, maka segeralah palingkan pandangan Anda. Sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang pandangan tak sengaja, beliau menjawab: “Palingkanlah pandanganmu, sebab pandangan pertama dimaafkan, namun pandangan berikutnya membawa dosa.” (HR. Muslim dalam Kitabul Isti’dzan, Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Seorang penyair berkata:

Segala malapetaka berawal dari pandangan mata
Laksana api yang berkobar dari sebuah percikan kecil
Betapa banyak orang yang dilumpuhkan pandangan matanya
Yang merobek laksana panah melesat tanpa busur dan talinya
Puas matanya namun merana batinnya
Tiada kebahagiaan yang berakhir dengan malapetaka
Selama seseorang memiliki sepasang mata yang bebas ia sorotkan kepada wanita-wanita
Segala yang dipandangnya akan membahayakan diri sendiri
Pandangan haram tersebut dapat melahirkan berba-gai penyimpangan yang berbuah penyesalan di belakang hari. Padahal dengan menahan pandangan Anda akan beroleh pahala. Mohonlah selalu pertolongan dari Allah dan jangan melemah.

Soal kedua belas

Akhir-akhir ini muncul sebuah model rambut di tengah-tengah kaum wanita, yaitu jambul yang terjurai ke depan. Apakah model semacam itu dibolehkan? Berilah kami jawaban semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Jawab

Seorang wanita muslimah hendaknya menyelaras-kan seluruh tingkah lakunya dengan nilai-nilai Islam. Hendaknya ia mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan tuntutan syariat dan meninggalkan segala yang berten-tangan dengannya.

Sekarang ini banyak kita temui berbagai macam model rambut yang dilarang syariat, khususnya di kala-ngan wanita. Sekiranya masalah ini kita kupas panjang lebar, niscaya buku kecil ini tidak cukup untuk memuat-nya. Namun dalam kesempatan kali ini cukup saya jelaskan sebagai berikut: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda:


“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongannya.”
(HR. Abu Dawud dan Ahmad dengan matan yang lebih lengkap. Ibnu Taimiyah menyatakan sanadnya bagus, demikian pula Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)

Jika model rambut tersebut meniru model rambut wanita kafir, jelas haram hukumnya. Demikian pula bila ia bentuk rambutnya seperti potongan rambut lelaki. Sebab kaum wanita dilarang menyerupai kaum lelaki. Namun sebagian wanita membuat jambul tersebut lalu berkata: “Saya tidak bermaksud meniru wanita kafir” Apa sebabnya ia berkata demikian? Karena tahu jika ia mengaku meniru wanita kafir, tentu secara tegas kita katakan haram. Ada beberapa pengalaman menarik, salah seorang akhwat menjelaskan kepadaku salah satu model rambut wanita lewat telepon. Saya katakan kepadanya: “Kelihatannya model rambut seperti itu termasuk tasyabbuh (meniru) model rambut wanita kafir.” Ia langsung beristighfar: “Astaghfirullah , saya tidak bermaksud meniru wanita kafir!” Lalu saya tanyakan kepadanya: “Kalau begitu, apa nama model rambut ter-sebut?” Ia menjawab: “Michael!” Langsung saja saya katakan: “Itulah yang dinamakan tasyabbuh!”

Seorang akhwat lainnya menerangkan kepadaku salah satu model rambut melalui secarik kertas. Ia me-nerangkan sebuah model rambut dengan detail. Namun saya belum begitu mengenal model rambut seperti yang diceritakannya. Selesai ceramah tepatnya setelah menu-naikan shalat, salah seorang akhwat mengutus seorang bocah kecil kepadaku. Bocah itu berkata: “Salah seorang akhwat mengatakan kepada Anda bahwa nama model rambut itu adalah Diana’s Dog. Saya langsung beristigh-far: “ Astaghfirullah, apakah seorang wanita muslimah tega menghinakan dirinya dengan menyerupakan diri seperti anjing seorang wanita kafir?!” Betapa jauh berbeda keadaan mereka dengan Asma’ binti Abi Bakar dan sahabiyat lainnya yang telah menorehkan sejarah dengan melahirkan generasi-generasi muslim yang tangguh.

Pengalaman lain yang tak kalah menarik, seorang akhwat pernah bertanya kepadaku: “Apa hukumnya meng-keriting rambut?” Saya jawab: “Subhanallah, dahulu wanita tidak senang bahkan membenci rambut keriting, namun pada hari ini rambut keriting justru digandrungi mayoritas kaum wanita!?” Saya tidak berani memberikan jawaban, sebab ada sesuatu yang tersembunyi dibalik masalah ini!” Beberapa waktu kemudian, salah seorang ikhwan menghubungiku lewat telepon, ia mengaku baru kembali dari Amerika bersama istrinya. Ia menceritakan bahwa sebab wanita Amerika mengeriting rambut mereka sebagai berikut: Tersebutlah seorang wanita Amerika yang memelihara seekor anjing berbulu keriting. Kemu-dian anjing itu mati. Sebelumnya wanita itu telah bersumpah tidak akan melupakan anjingnya itu. Wanita itupun mengeriting rambutnya untuk mengenang anjing kesayangannya. Kemudian model rambut tersebut ditiru oleh tetangga-tetangganya. Lalu menyebar luas bak aliran listrik. Hingga ditiru oleh wanita-wanita muslimah. Oleh sebab itu saya peringatkan kepada para akhwat agar senantiasa menyelaraskan perbuatannya dengan nilai-nilai agama. Janganlah ia berbuat sesuatu yang meniru wanita-wanita kafir atau kaum lelaki. Hendaklah ia meneladani para ummahatul mukminin dan para sahabiyat seperti Khadijah, Fathimah dan wanita mukminah lainnya Radhiyallahu anhunna.

Soal ketiga belas

Sekarang ini tengah menjamur kebiasaan buruk, yaitu seorang wanita duduk berkumpul bersama saudara laki-laki suaminya, menghidangkan minuman dan ber-bincang-bincang dengannya tanpa ada keperluan mende-sak. Bagaimana pengarahan Anda dalam menangani masalah ini? Apakah perbuatan seperti itu terpuji atau justru tercela?

Jawab

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


“Hindarilah berkhalwat (berduan) dengan kaum wanita!” Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan saudara ipar?” Rasulullah menjawab: “Berkhalwat dengan saudara ipar itu adalah maut!” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)

Rasulullah mengibaratkan duduk berduaan dengan saudara ipar laksana maut, yaitu sangat buruk dan ber-bahaya. Oleh sebab itu, kebiasaan tersebut tidak terpuji bahkan sangat tercela. Penjelasannya sebagai berikut.

Ketika seorang wanita duduk-duduk berkumpul dengan lelaki yang bukan mahramnya di antaranya ada-lah saudara ipar- baik yang sudah menikah ataupun belum, dapat tergoda dengan kelembutan suaranya apalagi bila tawanya berderai. Terkadang ia bergerak hingga kelihatan lekuk tubuhnya. Hal itu tentu merupa-kan suatu kesalahan besar yang dapat menimbulkan musibah.

Sebaik-baik wanita adalah yang dapat menjaga kehormatan diri, sebagaimana yang dituturkan Fathi-mah radhiyallahu ‘anhu. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Siapakah wanita yang paling baik?” Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu segera bangkit seraya terus berfikir tentang masalah itu. Lalu ia tanyakan masalah itu kepada Fathimah radhiyallahu ‘anhu. Ia menjawab: “Sebaik-baik wanita adalah yang tidak melihat laki-laki yang bukan mahram dan mereka tidak meli-hatnya.”

Hendaknya seorang wanita senantiasa menjaga dirinya sekalipun terhadap saudara ipar. Kecuali jika ada kebutuhan mendesak, mereka boleh berbicara dengan mereka sekadarnya saja. Bukan berarti harus timbul perasan saling mencurigai, namun hendaknya seluruh perbuatan kita harus berdasarkan kaidah-kaidah syar’i.

Soal keempat belas

Apa maksudnya mencintai karena Allah? Apakah mencintai muallimah (guru wanita) yang elok akhlaknya termasuk mencintai karena Allah?

Jawab

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan kepada kita ba-tasannya dalam sebuah hadits:


“Tujuh golongan yang dinaungi Allah pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, be-liau menyebutkan di antaranya: dua orang yang bersaudara saling mencintai karena Allah, bertemu karena-Nya dan berpisah juga karena-Nya.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Apabila pertemuan dan perpisahan itu didasari rasa cinta karena Allah semata, tidak untuk maksud-maksud duniawi, maka itulah yang dinamakan mencintai karena Allah. Namun jika pertemuan dan perpisahan itu karena harta atau gengsi atau lainnya, tentu tidak termasuk mencintai karena Allah. Meskipun ia berusaha memaksakan seolah-olah cintanya hanya karena Allah.

Sekarang ini kaum wanita begitu mudah terpesona dengan penampilan dan gaya wanita lain yang dianggap-nya hebat. Ini merupakan suatu penyakit . Ia berusaha meniru seluruh gerak gerik dan tingkah laku wanita yang diidolainya itu. Sehingga si wanita itu selalu ada dalam pikirannya karena saking cinta dan terpesona kepadanya. Kadangkala hal itu menyeret mereka kepa-da penyimpangan. Bukan membantunya dalam berbuat taat, malah justru sebaliknya. Sudah banyak wanita-wanita yang menjadi korban penyakit ini. Saya tidak perlu membeberkannya lebih lanjut. Lucunya di antara kaum wanita itu ada yang tetap bersikeras bahwa sikap seperti itu adalah wujud cintanya karena Allah! Namun kiranya realita yang terjadi cukup sebagai buktinya.

Soal kelima belas

Bagaimana pendapat Anda dengan seseorang yang mengaku multazim (taat beragama) namun masih suka membaca kisah-kisah cinta dan asmara. Apa nasihat Anda kepada mereka?

Jawab

Pada jawaban yang lalu telah saya terangkan bah-wa banyak sekali orang yang tidak mengetahui hakikat iltizam. Oleh sebab itulah mereka masih saja melakukan pelanggaran demi pelanggaran. Apabila tujuan memba-canya untuk membantah apa yang ada di dalamnya dan untuk memperingatkan orang lain dari bahayanya, tentu saja dibolehkan. Namun jika tujuan membacanya hanya sebagai hiburan dan mengisi waktu senggang, jelas dilarang. Sebab hal itu dapat mengotori pikirannya. Me-nurut pandanganku, membaca kisah-kisah cinta seperti itu ibarat memakan makanan busuk yang telah berakhir masa berlakunya. Jika dengan membacanya pikiran menjadi busuk tentu bahayanya lebih dahsyat dan lebih besar lagi.

Soal keenam belas

Tolong jelaskan kepada kami kewajiban-kewajiban seorang istri yang tinggal di rumah mertua terhadap saudara-saudara iparnya. Apa saja kewajibannya terha-dap mereka dan apa kewajiban mereka terhadapnya?

Jawab

Seorang istri yang tinggal di rumah mertua hen-daknya tidak memakai wewangian bila bertemu dengan saudara-saudara iparnya, tidak memakai perhiasan dan berusaha untuk tidak banyak berbincang-bincang dengan mereka kecuali sekadar kebutuhan saja. Dan hendaknya menghindari khalwat (berduaan) dengan mereka. Semo-ga Allah memberikan taufiq kepada kita semua kepada amalan yang dicintai dan diridhai-Nya.

Soal ketujuh belas

Apa hukumnya memakai gaun sutera?

Jawab

Banyak sekali yang menanyakan tentang masalah ini. Menurut sepengetahuanku gaun sutera ini ada bebe-rapa jenis. Jika gaun tersebut ketat hingga menampakkan bentuk tangannya, tidak syak lagi pasti dapat menimbulkan fitnah. Maka hendaknya ia tidak memakainya. Di sana ada beberapa jenis gaun lainnya, pergelangan tangan gaun itu tampak tipis hingga lengan dapat terlihat saat memakainya. Ini juga dapat menimbulkan fitnah. Tentu saja dilarang mengenakannya. Namun jika gaun itu besar dan luas serta tidak transparan, menurut pendapatku boleh-boleh saja dikenakan.

Soal kedelapan belas

Ke mana sebaiknya disalurkan sedekah-sedekah jariyah, ke dalam negeri atau ke luar negeri?

Jawab

Penyalurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Tem-pat mana saja yang membutuhkan berhak menerima penyaluran sedekah tersebut.

Soal kesembilan belas

Apa hukumnya mengecat rambut dengan warna hitam?

Jawab

Tentu saja, mengecat rambut dengan warna hitam adalah dilarang. Namun sekarang ini muncul alat pewar-na rambut baru yang terkomposisi dari berbagai warna. Sebagian wanita bertanya: “Apa hukumnya memakai pe-warna rambut seperti itu? Dan apa maksudnya mewarna rambut? Saya katakan: “Yaitu mengecat rambut dengan warna-warni.” Subhanallah, zaman sekarang benar-benar edan, semuanya ada dan bebas dilakukan. Hingga ada seorang akhwat yang berkata: “Dahulu aku mengecat rambut dengan warna tertentu, lantas ingin kuhilangkan, namun ternyata rambutku berubah jadi memutih, sehingga aku terpaksa mengecatnya dengan warna hitam. Sung-guh edan memang!

Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mencurahkan ketakwaan kepada diri kita dan membersihkannya. Sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik yang mensucikannya dan Dia-lah walinya dan pemiliknya.

Ya Allah, ajarkanlah kepada kami hal-hal yang bermanfaat, dan anugrahkanlah manfaaat dari ilmu yang kami ketahui. Ya Allah, jagalah kami, dan peliharalah iman kami, jiwa kami, kehormatan kami, dan negeri kami. Ya Allah, curahkanlah keamanan di dalam negeri kami dan perbaikilah keadaan penguasa-penguasa kami. Karuniailah mereka wazir-wazir yang baik lagi shalih. Dan kami tutup permohonan kami dengan mengucapkan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s