Tiga Bekal Pokok Aktivis Dakwah Kampus


Sebagaimana layaknya prajurit yang akan berperang, dimana amunisi menjadi bekal cukup penting selain pemahaman tentang strategi perang dan juga motivasi berperang. Aktivis dakwah kampus juga sudah semestinya memiliki hal serupa. Ia harus punya amunisi; ia harus punya pemahaman akan strategi perang; ia juga mesti memiliki motivasi yang tinggi.

Kalau amunisi yang harus dipersiapkan oleh prajurit adalah peluru maka bagi aktivis dakwah amunisi yang dimaksud adalah pemikiran. Kalau pemahaman mengenai strategi perang yang harus dipunyai seorang prajurit, maka kecakapan dalam hal manajerial merupakan bekal yang juga harus dimiliki oleh aktivis dakwah.

Sementara itu, sebagaimana halnya seorang prajurit memiliki motivasi yang tinggi demikian pulalah dengan aktivis dakwah. Ia tak boleh kekurangan motivasi. Tak boleh juga motivasinya surut. Secara garis besar, inilah tiga bekal utama yang harus dimiliki oleh aktivis dakwah kampus. Yang sebenarnya ketiga hal ini juga mestinya dimiliki oleh aktivis dakwah manapun yang bergerak dalam skup apapun. Bisa kita sebut ketiga hal itu sekali lagi:
1-    Pemikiran yang kuat
2-    Kemampuan manajerial
3-    Kepercayaan diri yang tinggi

Pemikiran

Dakwah adalah pekerjaan menyeru. Maka materi atau substansi seruan harus mengandung deskripsi tentang ke arah mana obyek dakwah diseru dan alasannya kenapa obyek dakwah diseru? Contohnya, karena alasan si obyek dakwahnya tidak sholat maka diberikan pemahaman dan pengertian tentang hukum sholat, pentingnya sholat, manfaat dan hikmah sholat, serta kerugian ketika sholat ditinggalkan.

Contoh lainnya adalah tentang jilbab. Karena obyek dakwahnya tidak berjilbab maka harus diberikan gambaran tentang bentuk jilbab itu seperti apa, kenapa harus seperti itu, apa hikmahnya, dan apa kerugiannya jika tidak menggunakan jilbab.

Dalam mengusung mega proyek dakwah ke arah perubahan masyarakat dalam skup kampus maka seluruh obyek dakwah perlu diberikan deskripsi tentang format bangunan masyarakat yang dituju, tentang kelirunya kehidupan masyarakat sekarang, apa kerugiannya jika model masyarakat sekarang dipertahankan, apa kelebihannya model masyarakat yang dituju, dst.

Semua kerja seperti di atas merupakan kerja pemikiran. Oleh karena itu, terkait dengan pemikiran ini, setiap aktivis dakwah harus memiliki kapasitas seperti berikut:
•    Pemikiran itu harus ADA
•    Pemikiran itu harus Deskriptif
•    Pemikiran itu  harus Argumentatif
•    Pemikiran itu harus Solutif

Dengan demikian, seorang aktivis dakwah kampus tidak hanya berbekal suara keras. Tapi  ia juga punya konsep pemikiran. Bukan sembarang pemikiran. Ia sanggup memberikan deskripsi yang utuh dan komprehensif tentang pemikiran yang diusungnya. Apabila ada yang mendebatnya ia siap untuk mempertahankan argumentasinya. Dan ia yakin sepenuh hati bahwa pemikiran yang dibawanya itulah satu-satunya harapan bagi masyarakat untuk keluar dari berbagai permasalahannya.

Manajerial

Dalam kesempatan lainnya nanti akan diuraikan lebih rinci tentang manajemen dari segala aspeknya. Yang jelas, topik tentang manajemen ini masih menjadi satu topik yang dianggap dan dirasa rumit bagi banyak aktivis dakwah. Bahkan oleh aktivis mahasiswa secara umum. Padahal sebenarnya cukup sederhana sekali. Karena manajemen adalah suatu kerja yang hanya berhubungan dengan dua hal: POTENSI dan SINERGI.

Setiap orang pasti punya potensi. Maka setiap aktivis dakwah harus bisa segera menyadari apa potensi yang dimilikinya. Sekecil apapun itu. Dan ia juga harus dapat memahami serta mendeteksi potensi rekannya dalam satu team. Potensi dari dirinya itulah yang dia optimalkan untuk keperluan dakwah. Allah SWT telah mewajibkan dakwah. Maka setiap orang pasti memiliki potensi apapun yang bisa digunakan untuk dakwah. Inilah pekerjaan manajemen yang pertama. Dengan kata lain, pekerjaan seorang berkarakter manajer adalah menggali, menemukan, dan mengembangkan potensi. Baik potensi dirinya maupun potensi orang lain.

Kerja manajemen yang kedua adalah Sinergi. Sehebat apapun seseorang, maka ia tak dapat berbuat banyak tanpa adanya team yang ada di belakangnya atau menyertainya. Kalau sudah bicara team, maka otomatis harus ada upaya untuk memadukan seluruh anggota team itu. Inilah yang dimaksud dengan sinergi, yakni menghubungkan antara satu potensi dengan potensi lain. Sehingga suatu team memilki kapasitas yang cukup lengkap dikarenakan beranekaragamnya potensi dari seluruh anggota team.

Kalau tidak ada orang yang seperti Umar bin Khaththab dalam sebuah team, maka team itu harus berusaha membangun suatu sinergi hingga menjadi team dengan kapasitas seperti Umar bin Khaththab. Artinya, Umar bin Khaththab yang terdiri dari banyak person.

Percaya Diri

Kalau aktivis dakwah merasa memiliki pemikiran yang brilian dan mumpuni, maka tentu tidak mudah untuk membangun motivasi dan kepercayadirian. Kalau banyak pembela kebathilan saja dengan begitu percaya dirinya mereka menampilkan diri dan agenda mereka, maka kenapa aktivis dakwah tidak. Selain adanya kejelasan pemikiran, juga ditambah dengan iming-iming berupa kemuliaan di sisi Allah bagi pengemban dakwah. Ini saja sudah cukup untuk membangun motivasi dengan rasa percaya diri.

Memang benar, merawat motivasi dan percaya diri itu cukup sulit. Maka setiap aktivis dakwah harus selalu berdoa kepada Allah SWT agar selalu dianugerahkan seorang yang bisa menjaga aura semangat dalam sebuah team. Kalau tidak ada seorangpun dari anggota team itu yang mempunyai semangat yang stabil apalagi grafiknya terus meningkat, maka setidaknya selalu ada anggota team yang secara bergantian memiliki motivasi.

Ada satu tips yang bagus untuk dipraktekkan, yaitu membiasakan saling menasehati diantara sesama aktivis. Konkritnya, jika ada satu orang sedang semangat, maka ia harus segera melontarkan pesan-pesan motivasi kepada teman-temannya yang lain. Baik formal maupun informal, baik lewat tulisan maupun lewat lisan, lewat SMS atau lewat pamflet singkat yang ditulis di mading.

Dan yang perlu diingat, ketika ada seorang aktivis dakwah yang sedang menurun semangatnya, kemudian datang aktivis lain yang mengatakan keluhannya yang sedang tidak semangat, maka ia tidak boleh sekali-kali mengatakan “wah, saya juga lagi tidak semangat nih”. Sehingga forum diskusi itu menjadi forum probleming problem, respon yang diberikan malah menjadikan problem kian menjadi jadi.

Secara teknis lain, setiap aktivis, meskipun sedang down semangatnya, maka saat kirim SMS perlu tetap dimulai atau diakhiri dengan pesan-pesan motivasi. Seperti “Aslm. Keringat Aktivis adalah Wangi Suurga. Ikhwan sekalian, besok ada acara….dst”. atau seperti ini “Aslm. Jangan lupa acara besok….dst. Deru Dakwah Terus Menggebu”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s