Sejarah Batu Indah Nan Panjang Perjalanannya (Hajar Aswad)


Gambar 

Oleh: H. A. M. Ackman. Lc. M.Si

Batu Hitam (Hajar Aswad) yang mempesona ini, yang dituju, yang dicium, yang disentuh oleh jutaan Muslimin ini, telah melewati berbagai periode dan secara singkat bisa digambarkan sebagai berikut:

  • 1850-1820 SM: Nabi Ibrahim meletakkan Hajar Aswad di Ka’bah, ketika membangun Ka’bah.
  • 400 M: Amr bin Harits bin Madhadh al-Jurhum memasukkan ke dalam sumur Zamzam.
  • 400 M: Qushay bin Kilab (kakek Rasul SAW yang kelima) meletakkan kembali ke tempatnya di Ka’bah.
  • 606 M, terjadi kerusakan pada Ka’bah akibat banjir, dan Nabi Saw (Nabi saat itu belum diangkat menjadi Nabi) meletakan di  tempat  yang  ada  sekarang setelah terjadi perdebatan antarkabilah Quraisy.
  • 180-an H, Abdullah bin Zubair memasang lingkaran pita perak di sekeliling Hajar Aswad.
  • 7 Zulhijah 317 H: Abu Tahir Al Qarmuthi mencopot Hajar Aswad.
  • 10 Dzulhijjah 339 H, Hajar Aswad berhasil dikembalikan ke tempatnya.
  • 363 H, Hajar Aswad dipukul oleh seorang laki-laki dari Romawi, namtm ia tidak berhasil membawanya.
  • 413 H, seorang laki-laki dari Bani Fatimiyyah, memecahkan Hajar Aswad.
  • 990 H, seorang laki-laki asing memukul Hajar Aswad.
  • 1268 H, Sultan Abdul Majid mengganti lingkaran perak dengan emas.
  • 1293 H,  Sultan Abdul Aziz mengganti lingkaran emas dengan perak.
  • Muharram  1351  H,  seorang laki-laki  dari Afghanistan mencungkil pecahan Hajar Aswad dan mencuri potongan kain Kiswah Ka’bah.
  • 28  Rabiul Akhir  1351  H,  Raja Abdul Aziz bin Abdur Rahman  As-Saud  merekatkan  kembali  Hajar Aswad yang telah pe cah dan memberinya lingkaran perak di sekelilingnya.

 

Batu Hitam yang Mulia

Hajar Aswad yang bermakna batu hitam adalah sebuah batu yang sangat dimuliakan. Ia merupakan jenis batu ruby, yang berasal dari Surga. Sebagian besar umat Islam, terutama yang menunaikan ibadah haji, berusaha menciumnya, sebagaimana yang dicontohkan Nabi Saw.

Umar bin Khattab ra pernah berujar ketika berada di hadapan Hajar Aswad:

“Demi Allah, aku tahu bahwa kamu hanya sebongkah batu. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah Saw menciummu (Hajar Aswad —Red), niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Muslim).

 

Tentang Hajar Aswad

Batu hitam ini berukuran sekitar 10 sentimeter (cm) dengan luas lingkaran pita peraknya sekitar 30 cm. Tingginya dari lantai dasar Masjid al-Haram sekitar 1,5 meter. Hajar Aswad sendiri pernah dipecahkan menjadi 8 pecahan dengan ukuran kecil-kecil.

Ketika Salman Al-Farisi ra tengah berada di antara Zam-zam dan Maqam (tempat berpijak) Ibrahim, dia melihat orang-orang berdesakan di sekitar Hajar Aswad. Lalu dia bertanya kepada kawan-kawannya, “Tahukah kalian, apakah ini?”

Mereka menjawab  “Ya, ini adalah Hajar Aswad.” Dia meneruskan, “ “la berasal dari batu-batu surga. Dan demi Tuhan yang menggenggamku, ia akan dibangkitkan kelak dengan memiliki sepasang mata, satu lisan, dan dua buah bibir, untuk memberikan kesaksian bagi orang-orang yang pernah menyentuhnya secara hak (benar).”

 

Bukan Batu Meteor

Sebagaimana diterangkan   dalam   sejumlah  hadis  dari  berbagai  perawi  hadis  tepercaya,  Hajar Aswad  adalah sebuah batu mulai yang berasal dari surga. Saat pertama kali diturunkan, batu ini berwarna putih susu. Namun, karena dosa-dosa manusia hingga ia menjadi hitam (aswad).

Dengan banyaknya riwayat yang menyebutkan Hajar Aswad berasal dari surga, banyak pihak yang penasaran dengan hal tersebut. Ada yang berusaha mencurinya. Bahkan ada pula yang beranggapan bahwa Hajar Aswad adalah batu meteor. Dan tentu saja anggapan ini berbeda dengan keterangan beberapa hadist, bahwa Hajar Aswad berasal dari batu surga.

Begitu pula mengenai cara sampainya di bumi, ada beberapa pendapat yang berbeda. Ada yang menyebutkan bahwa batu ini dibawa oleh malaikat Jibril atas perintah Allah ke bumi.

Ada pula yang menyebutkan, bahwa batu ini dibawa Nabi Adam as dari surga ketika ia diturunkan ke Bumi. Pendapat ini disampaikan oleh pakar tafsir terkenal, Ibnu Katsir dalam bukunya Qishahul Anbiya (kisah-kisah para Nabi)

 

Penelitian Hajar Aswad

Seorang ilmuwan Mesir, Prof. Dr Zaghlul an-Najjar pernah menyapaikan sebuah wacana agar Hajar Aswad diambil sampelnya untuk diteliti lebih lanjut untuk membuktikan bahwa Hajar Aswad itu bukan sebuah meteor, namun batu dari surga seperti yang pernah di terangkan oleh Nabi Saw. Dan pengambilan sample ini, menurutnya tidak akan merusak Hajar Aswad itu sendiri. Namun sampai saat ini wacana tersebut tampaknya tidak mendapat dukungan dari pihak terkait.

 

Hadist-Hadist tentang Hajar Aswad

  • Dari Humaid ibn Abi Sawiyyah ra, bahwa ia pernah mendengar bahwa Ibn Hisyam pernah bertanya kepada Atho ibn Abi Ribbah ra (seorang tabi’in) ketika Atho sedang tawaf di Baitullah. Atho kemudian meriwayatkan bahwa  Abu Hurairah ra mengatakan, “ Bahwasannya Nabi Saw pernah bersabda, “Bahwa di sekitar Hajar Aswad ada 70 malaikat dan jika seseorang (yang sedang tawaf) berdoa,” Ya Allah, aku minta ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat, Ya Allah berilah aku kebaikan di dunia dan akhirat dan jauhkan aku dari siksa api neraka.” Maka para melaikat itu akan meng aminkan nya.” Ketika sampai di Hajar Aswad, Ibn Hisyam bertanya kembali, “ Ya Aba Muhammad, apa yang kau ketahui tentang Hajar Aswad ini? Atho menjawab, bahwa Abu Hurairah pernah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw mengatakan,” Barangsiapa yang menyetuhnya, maka sebenarnya ia menyentuh tangan ar-Rohman (tangan Allah).” ( HR. Ibnu Majah. Al-Mundziri mengatakan bahwa hadist ini di Hasankan oleh sebagaian ulama hadist)

 

  • Dari Abdullah Ibn Umar bahwasanya Rasulullah Saw pernah bersabda, “ Di hari kiamat kelak, akan datang rukun (Hajar Aswad) dalam bentuk yang lebih besar dari gunung Abi Qubaisy. Ia memiliki dua bibir kemudian menceritakan siapa saja yang pernah menyetuhnya dengan niat (karena Allah semata). Ia (Hajar Aswad) adalah Yaminullah (tangan kanan Allah) yang disentuh oleh para hamba-hamba Nya.” (HR. Khuzaimah. Adz-Dzahabi melemahakan hadist ini karena ada seorang rawi, yaitu Abdullah Ibn Muamil yang dianggap lemah. Al-Baihaqi pun melemahkan hadist ini. Namun tentang kelemahan Abdullah Ibn Muamil ini ditentang oleh pakar hadist lainnya karena Ibn Hibban menganggap nya seorang tsiqot (bisa dipercaya). Begitu pula pandangan Ibn Hajar yang menyebutkan bahwa meskipun rowi termasuk yang suka menafsirkan hadist, namun jika ada hadist lain yang menguatkannya maka hadist ini termasuk hadist Hasan sebagaimana pandangan Imam Tirmidzi.” Dengan demikian hadist diatas tidak termasuk hadist dhoif karena ada hadist yang menguatkan hadist ini, yaitu dari riwayat Humaid Ibn Abi Sawiyyah (hadist pertama diatas)

 

  • “Rukun itu (Hajar Aswad) dan Maqam (tempat berpijak Nabi Ibrahim) adalah batu Yaqut dari bebatuan surga. Dan jika tidak disentuh (oleh) dosa-dosa manusia, maka pastilah akan terang dunia ini (karena cahaya Hajar Aswad). Dan orang sakit yang menyetuhnya pastilah akann sembuh.”  (HR. Baihaqi. Imam Nawawi dalam al-Majmu mengatakan bahwa sanad nya Sahih)

 

Sumber bacaan:

Fadlu Hajar Aswad Wa Maqom Ibrohim, Said Bakdasy, Syirkah Dar Basyar Al-Islamiiyah: beirut, Cet. ke-6 1436 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s