Penyemangat Kehidupan

Menggapai Pernikahan barokah

 

Hari itu langit kota Madinah seakan berwarna merah jambu, tersenyum menyaksikan dua cinta suciyang telah bersatu. Cinta yang tersimpan rapidalam hati hingga syetan tak sempat ikut campur dalam urusan ini. Akhirnya pilihan Rosululloh jatuh pada Ali Bin Abi Thalib sebagai menantunya, menjadi pendampingbagi puteri terkasih Fatimah Azzahra. Ali yang tampan dan cerdasmenikah dengan Fatimah yang cantikdan terpelihara. Pasangan yang sungguh serasi. Mas kawin yang diberikan Ali hanyalah sebuah baju besi. Resepsi pernikahan yang digelar tak lebih sekedar hidangan sederhana. Fatimah tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya, Ali pun demikian. Apa yang membuat dua orang yang jatuh cinta lebih bahagia selain dari sebuah pernikahan? Sungguh pernikahan ini telah menunjukan keberkahan yang mempesona. Lahirlah Hasan dan Husein hiasan mata dan hati Rosululloh.

Barokallohulaka wa baroka alayka wajama’a bainakuma fii khoirii. Begitulah doa Rosululloh pada pernikaha puteri kesayangannya Fatimah Azzahra. Tidak ada yang membuat seorang pengantin lebih bahagia dari kehadiran para tamu selain doa yang diucapkan dengan penuh ketulusan sehingga doanya dikabulkan Alloh SWT. Sungguh bahagia pasangan yang dapat meraih keberkahan sebuah pernikahan. Betapa tidak, rumah tangga yang berkah adalah rumah tangga yang di dalamnya menentramkan, penuh cinta dan saying. Suasana surgawi senantiaasa menghiasi rumah tangga yang berkah. Rumahku surgaku kiranya menjadi sebuah kata yang tepat untuk melambangkan kebahagiaan mereka. Siapa yang tidak ingin pernikahannya barokah. Awal dari semua keberkahan itu adalah kelurusan niat seorang pengantin dalam membina rumah tangganya. Lurusnya niat akan menjadi pondasi kuat untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Lurusnya niat akan menjadi awal dari datangnya pertolongan Allah SWT. Jika niat seorang hamba sempurna, maka apakah Allah tidak akan menyempurnakan pertolonganNya pada hambaNya? Sungguh Allah Maha Sempurna dalam memberikan balasan. Segalanya akan dimudahkan. Mulai dari niat seseorang untuk mencari pendamping, hingga niat ketika kelak sepasang pengantin menikahkan anak-anaknya. Tujuan utamanya adalah ibadah, yaitu meraih keridhoan Allah SWT. Karena dari sinilah awal kebahagiaan. Niat ibarat baterai yang akan menjadi sumber energy dalam beramal. Jika niat itu bersumber dari kekuatan yang tiada batasnya, maka amal setelah itu menjadi rangkaian proses yang powerfull, mengantar seseorang untuk semakin menyempurnakan penghambaannya. Menikah bukan ajang unjuk gigi, apalagi uji nyali, menikah juga bukan merupakan eksistensi, apalagi unjuk prestasi, perkaranya juga tidak terletak pada siapa kita menikah, tapi lebih pada bagaimana kita menyikapi pasangan kita apapun kekurangan dan kelebihannya. Walaupun menikah merupakan separuh din, tapi menikah juga bukan segalanya untuk memulai sebuah karya. Menikah adalah salah satu sarana mardhotillah. sama seperti setiap episode dalam kehidupan kita. Memilih pendamping termasuk perkara inti dalam sebuah pernikahan. Sebagaimana Khalifah Umar Bin Khatab telah mencontohkan. Bagi Khalifah ketiga umat ini, keputusan mengambil menantu seorang gadis penjual susu yang bahkan belum dilihat paras wajahnya adalah hal yang tak menjadi soal. Jika agama telah menghiasai akhlak gadis itu maka cukup bagi Umar hal itu menjadi sebuah alasan. Kelak keturunannya menjadi orang yang mulia.

Khalifah umat Islam kelima Umar Bin Abdul Aziz. Wanita dipilih karena empat hal yaitu, yang jamilah, berasal dari keturunan yang abik, harta dan agamanya. Namun pilihlah karena agamanya agar berkah kedua tanganmu. Jelas sudah isyarat Rosululloh agar sebuah pernikahan berkah. Agamanya, sebab agama seseorang yang akan dibawa hingga akhirat sedang lainnya hanyalah perkara duniawi. Seorang lelaki dipilih karena akhlak dan ilmunya. Akhlaknya akan memberikan jaminan bahwa dia akan berlaku baik terhadap istrinya dan ilmunya akan menuntunnya dalam membina rumah tangga yang baik. Baik dari segi pendidikan keluarga dan kesejahteraan keluarganya. Sebab ilmu adalah landasan dalam beramal. Setiap tindakan seseorang sangat dipengaruhi oleh keluasan ilmunya. Sebagai seorang qowam tentu seorang suami dituntut memiliki ilmu yang luas untuk menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan, sebab sebuah keputusan kepala keluarga akan berdampak bagi seluruh anggota keluarganya. Dan ada sebagian orang yang dengan pasanagannya akan membentuk sebuah visi dan misi dakwah kedepannya setelah menikah. Hal ini pun harus disepakati dan dipahami oleh kedua pasangan tersebut. Semua itu adalah rambu yang telah diberikan oleh Rosululloh, tapi terlepas dari semua kriteria kembali lagi pada sunatullah bahwa yang baik untuk yang baik dan yang buruk untuk yang buruk. Maka ikhtiar kita adalah terus melakukan perbaikan diri agar mendapat yang terbaik. Dan keyakinan bahwa rizki tidak akan tertukar. Betapapun seluruh manusia menghalangi kalau itu sudah menjadi kehendak Allah, maka rizki itu akan sampai pada orang yang tepat. Betapapun seluruh manusia sudah menghimpun kekuatan untuk mengusahakan rizki, namun apabila Allah tidak berkehendak maka rizki itu tidak akan sampai padanya. Saat ini persoalannya dengan siapa kita akan bersanding. Tapi seajauh mana kita mempersiapkan episode itu, saat ini biarlah Allah yang mengetahui dan menetukan wakunya. Karena kelak ketika sudah pada waktunya kita akan mengetahuinya. Proses menuju pernikahan juga sangat berpengaruh pada keberkahan. Keberkahan pernikahan tidak ditentukan karena kenal atau tidak kenal dulunya pasangan. Sebab Ali sangat mengenal Fatimah, Rosululloh mengenal baik Khodijah. Bahkan kebanyakan para sahabat menikahi wanita yang berada di lingkungan terdekat yang telah mereka kenal. Tapi yang terpenting seperti yang dituliskan sebelumnya bagaimana proses demi proses kita lewati. Hal lain yang akan mempengaruhi keberkahan adalah proses pernikahan sesuai dengan syariat, tidak berlebih dan tidak ada naksiat kepada Allah. Sederhana atau mewah bagi setiap orang tentu takarannya berbeda. Tak perlu menakar kesederhanaan orang lain. Lebih baik kita memohon keberkahan pernikahan tersebut, agar berkahnya bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada disekelilingnya. Ada keajaiban dalam pernikahan. Ketika seseorang hamba menikah maka dia telah menggenapkan separuh agamanya. Bagaimana mungkin peristiwa ijab dan kabul itu bisa mengubah derajat seorang hamba sedemikian rupa? Bayangkan! Sholat kita, ibadah kita yang belum menikah. Sebanyak apapun masih tetap dianggap separuh. Setiap detik perjalanan manusia telah diatur tujuannya oleh Allah. Sedetik saja kita bergeser dari tujuan maka sedetik pula kita tertinggal. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengejar hingga separuh perjalanan mendahului yang lain? Allah memberikan cara yang luar biasa untuk mengejar ketertinggalan dengan sebuah pernuikahan.

Niat yang lurus akan senantiasa melahirkan jalan keluar. ketika dating persoalan, kita kembalikan pada Allah SWT dan tujuan kita. Sehingga semuanya akan terasa lebih ringan. Kita akan yakin Allah senantiasa bersama kita. Menatap setiap kejadian yang menimpa kita. Tidak akan meninggalkan kita, karena Allah tahu hati kita senantiasa bergantung hanya padaNya. Sehingga seluruh persoalan menjadi mudah untuk diselesaikan. Sebaliknya, tujuan bergeser hanya akan membuat kita menjadi budak syaithon. Segala yang kita lakukan untuk dipertontonkan pada manusia hanya akan membuat kita semakin menderita. Apa yang kita lakukan tanpa niat karena Allah Ta’ala maka semuanya kan sia-sia. Seperti jerami yang habis dimakan api. Kebahagiaan sejati letaknya pada kemampuan hati kita untuk bersabar dalam berbagai kondisi dan usaha kita untuk banyak mengingat nikmat Allah yang sungguh tiada terhitung, ketimbang mengingat sedikit permasalahan yang sebetulnya pasti bisa kita atasi. Telah disesuaikan kadarnya dengan kemampuan kita. Sekali-kali Allah tidak akan berlaku dzolim pada hambaNya.

Setipa orang mempunyai kisah tersendiri, apakah itu manis atua sebaliknya. Tapi masa lalu biarlah masa lalu yang bisa dijadikan ibrah dan semangat untuk lebih lagi. Dulu ketika kita pernah terjatuh maka tekadkan dalam hati. Berusaha untuk tidak berjatuh lagi. Biarlah saat ini dan selanjutnya kita meerangkai langkah-langkah kisah kehidupan dengan sesuatu yang lebih luar biasa, yang lebih mengikuti langkah-langkah para pendahulu yang penuh tauladan.

Seorang mukmin apabila ia mendapat rahmat maka ia akan bersyukur dan apabila ditimpa musibah maka ia akan bersabar, keduanya adalah kebaikan baginya. Subhanallah… Nikmat Tuhanmu manakah yang dapat kamu dustakan?

 

Wallahu’alam

 

Semoga bermanfaat, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Kita memang bertemu untuk saling mengingatkan dan mengukuhkan dalam jalan panjang ini. Jalan yang lebih panjang dari usia-usia kita. Biarlah Allah SWT yag menjadi tujuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s